Iklan

Kupilih Engkau dengan Bismillah

   Opini
  Oleh Munawar A. Djalil

TULISAN ini hanya sebuah pesan dari saya khususnya buat pemilih di Kabupaten Pidie Jaya dan Kota Subulussalam yang akan melaksanakan Pilkada tanggal 29 Oktober 2013. Semoga anda menjadi pemilih pintar dan rasional dalam menentukan pilihan.


Sebagai ilustrasi, konon, suatu ketika di pagi buta, Abu Nawas (813-862 M), penyair jenaka yang sangat dekat dengan Khalifah Harun Al-Rasyid, bertemu dengan seseorang. Rupanya ia ingin bergurau, maka dipegangnyalah bagian terpenting anggota tubuh orang itu. Namun alangkah terperanjatnya ia ketika ia mendengar suara orang tersebut menghardikkannya dengan keras. 


Abu Nawas tersadar bahwa ternyata yang dipegang adalah “anunya” sang Khalifah Harun Al-Rasyid. Dengan suara terbata-bata ia mengajukan alasan “Maafkan saya Tuanku, saya kira yang saya pegang adalah Permaisuri Tuan.” Tentu saja alasan ini menambah amarah Khalifah karena apa yang didengarnya ini jauh lebih buruk daripada kesalahan yang dilakukan oleh Abu Nawas.

Alasan yang lebih buruk daripada kesalahan tidak jarang kita dengar, misalnya dari yang melakukan pelanggaran agama dengan berkata: “ini boleh, tidak apa dilakukan.” Jawaban ini menjadikan kesalahannya berganda, pertama ketika ia melanggar, kedua yang lebih buruk adalah alasan tersebut. Pada saat menjelang Pilkada, alasan yang lebih buruk daripada kesalahan, terkadang kita mendengar “tidak usah mencoblos, karena semua calon tidak ada yang membawa aspirasi rakyat”. Alasan ini lebih buruk dari keengganan memilih, kerana kita telah menjadikan seluruh calon adalah buruk. Logisnya, agama dan pertimbangan akal sehat menetapkan keharusan adanya Pemerintah yang mengelola kepentingan masyarakat, dan Pilkada adalah cara yang paling tepat. Dalam pandangan Nabi Muhammad SAW, jangankan masyarakat umum, tiga orang pun walau dalam perjalanan dianjurkan memilih salah seorang diantaranya sebagai pemimpin (Amir).


Jangan Menyiakan Amanah


Memilih adalah amanah, jabatan yang diberikan oleh pemilih dan diterima oleh yang dipilih juga amanah. “Jika amanah disia-siakan atau diserahkan kepada yang tidak wajar memikulnya, maka nantikan saat kehancuran,’ Demikian pesan Nabi SAW. Ini berarti keengganan memilih, atau memilih yang tidak wajar merupakan menyia-nyiakan amanah. Dan kita tahu bagaimana ancaman Allah terhadap yang menyiakannya (pemilih dan yang dipilih). Jangan kemudian berkata: “Tidak ada yang wajar dipilih, kesemuanya buruk”. Kalaupun itu benar, Nabi sekali lagi memberi petunjuk, “Fi ba’dh al-Syarri Khiyar” (dalam yang burukpun ada pilihan), yakni dengan memilih yang paling sedikit keburukannya.


Berbicara hubungan pemilih dengan dipilih Rasul bersabda: “Kamaa Takuunuuna Yuwalla `alaikum” Bagaimana keadaan kalian demikian pula ditetapkan pemimpin atas kalian”. Ada beberapa makna dari Hadis ini. Ia dapat berarti bahwa seseorang penguasa atau pemimpin adalah cerminan dari keadaan masyarakatnya. Pemimpin yang baik adalah dia yang dapat menangkap aspirasi masyarakatnya, sedang masyarakat yang baik adalah yang berusaha mewujudkan pemimpin yang dapat menyalurkan aspirasi mereka. Ungkapan Nabi diatas dapat juga berarti suatu pesan untuk tidak tergesa-gesa menyalahkan terlebih dahulu pemimpin yang menyeleweng, kerana pada hakikatnya yang bersalah adalah masyarakat pemilih itu sendiri. Bukankah pemimpin adalah cerminan dari keadaan masyarakat?, “Sebagaimana kalian demikian ditetapkan pemimpin atas kalian”.
Yang Layak dipilih
 

Anda telah mengenal para calon pemimpin anda dan kini anda tidak lagi kebingungan untuk memilih. Anda dipersilahkan menilai siapa diantara mereka yang paling wajar dipilih. Alquran memberi petunjuk secara tersurat dan tersirat dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia, termasuk upaya menjawab siapakah yang layak kita pilih. Dari celah ayat-ayat al-Quran ditemukan paling sedikit dua sifat pokok yang harus disandang oleh seorang yang memikul suatu jabatan yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat. Kedua hal itu hendaknya diperhatikan dalam menentukan pilihan.

“Sesungguhnya yang paling baik engkau tugaskan adalah yang kuat lagi terpercaya,” demikian ucapan Putri Nabi Syu’ib yang dibenarkan dan diabadikan dalam alQuran surah al-Qashash ayat 26.

Konsideran pengangkatan Nabi Yusuf sebagai Kepala Badan Logistik Kerajaan Mesir yang disampaikan oleh Rajanya dan diabadikan pula oleh AlQuran adalah: “Sesungguhnya engkau menurut penilaian kami adalah seorang yang kuat lagi terpercaya”. (QS 12:54). Ketika Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai Ketua Panitia Pengumpulan Mushab, alasannya pun tidak jauh berbeda: “Engkau seorang pemuda kuat dan bersemangat dan telah dipercaya Rasul untuk menulis wahyu.” Bahkan Allah memilih Jibril sebagai pembawa wahyu antara lain karena malaikat ini memiliki sifat kuat lagi terpercaya (baca QS 82 ; 19-20)


Sebagai pemilih atau orang yang memberikan amanah, pilihlah orang yang benar-benar mampu memegang amanah tersebut, kalau diabaikan, maka nantikanlah kehancuran. Mengabaikannya adalah memilih seseorang yang tidak wajar dipilih, demikian salah satu jabaran arti daripada amanah.


Memang pada hakikatnya, tidak mudah terhimpun dalam diri seseorang kedua sifat tersebut secara sempurna, tetapi kalaupun harus memilih, maka pilihlah yang paling sedikit kekurangannya dan lakukan pilihan setelah upaya bersungguh-sungguh untuk mendapatkan yang terbaik. 


Ketika Imam Ahmad Ibnu Hanbal ditanya tentang dua orang yang dicalonkan untuk memimpin satu pasukan, yang pertama kuat namun bergelimang dosa dan yang kedua baik agamanya namun lemah, beliau menjawab: “orang pertama dosanya dipikulnya sendiri sedangkan kekuatannya mendukung kepentingan umat, dan orang yang kedua agamanya untuk dirinya sedangkan kelemahannya menjadi petaka bagi yang dipimpin (rakyat),” inilah pertimbangan dalam menetapkan pilihan.’

Pendapat Imam Hanbal diatas menunjukkan bahwa figur dan struktur yang kuat sangat menentukan dalam kepemimpinan. Dalam kontek Aceh hari ini, figur bukan segalanya, namun siapa yang punya struktur yang kuat, mereka yang akan memimpin. Nah pada titik ini, anda boleh menetapkan pertimbangan anda, tapi ingatlah selalu sabda Rasul: “Siapa yang mengangkat seseorang untuk suatu jabatan yang berkaitan dengan urusan masyarakat sedangkan dia mengetahui ada yang lebih tepat, maka sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah, Rasul dan Kaum Muslim.”
Akhirnya, “Kupilih Engkau dengan Bismillah”, 


Kalimat itulah yang seharusnya dibaca ketika anda berada dalam bilik suara untuk mencoblos pada Pilkada nanti, kemudian iringilah dengan doa: ‘Allahumma tushallith `alaina bizunubina man la yakhafuka wala yarhamuna” Ya Allah jangan Engkau berikan kepada kami, karena dosa-dosa kami pemimpin yang tidak takut kepadaMu dan yang tidak sayang kepada kami”. Amin Ya Rabbal `alamin...Selamat memilih, Allahu `alam bish-shawab
 

* Munawar A. Djalil adalah Kepala Bidang Bina Hukum Dinas Syariat Islam Aceh
 [dikutip dari serambinesw.com]