Iklan

Fakultas Kedokteran Abal-abal di Indonesia

 Fakultas Kedokteran Abal-abal di Indonesia
 

Ilustrasi
OPINI | Belakangan ini isu mengenai fakultas kedokteran abal-abal menjadi pembicaraan hangat di publik. Hal ini terjadi setelah Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, SpA, M.P.H, menyatakan, bahwa dokter muda yang tidak lulus Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) tidak diperbolehkan menjadi dokter dan lebih baik menjadi bupati atau pengusaha. Statement ini kemudian menjadi heboh dan menimbulkan pro dan kontra khususnya di kalangan mahasiswa kedokteran.

Pertanyaan tersebut kemudian diberitakan luas secara online sehingga timbul komentar yang kritis dari masyarakat. Ada yang mendukung, namun ada juga yang menyayangkan. Beberapa mahasiswa kedokteran yang berstatus Co-Ass yang kami temui menyatakan pernyataan Menkes terlalu dini. Atau harusnya dia (Menkes) lebih peduli sama nasib kami, karena UKDI itu susah banget, nggak segampang yang diomonginya. Mahasiswa lain pun bahkan memberi pertanyaan yang lebih keras, atau coba kalau misalnya anaknya Bu Menkes nggak lulus UKDI? Apa dia tetap ngomong begitu?, ungkap seorang mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya.


Sebelumnya, dalam portal berita online sebuah stasiun televisi swasta, disebutkan bahwa ada fakultas kedokteran yang menerima mahasiswa IPS, bahkan STM, untuk menjadi mahasiswa kedokteran. Dari banyaknya berita tersebut, kami akhirnya memutuskan untuk melakukan penelitian secara sekunder, mengumpulkan data seluruh fakultas kedokteran negeri maupun swasta diseluruh Indonesia. Dari data tersebut, kami mengumpulkan informasi akreditasi, usia fakultas kedokteran, fasilitas penunjang, dan jumlah dosen tetap. Selain informasi tersebut, kami juga menemui beberapa mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani Co-Ass untuk dapat menyampaikan plus-minus fakultas kedokterannya (tentunya dengan identitas yang dirahasiakan).


Menurut data Dikti, ada 72 fakultas kedokteran di Indonesia. Namun dari jumlah tersebut, sebanyak lebih kurang 40 fakultas kedokteran terakreditasi C (dibawah standar). Tak hanya didominasi oleh swasta, bahkan ada beberapa fakultas kedokteran negeri yang memiliki akreditasi C. Fakultas kedokteran tersebut diantaranya adalah:


1. Universitas Abulyatama, Aceh
2. Universitas Islam Sumatera Utara, Medan
3. Universitas Methodist Indonesia, Medan
4. Universitas Prima Indonesia, Medan
5. Universitas Batam, Kepulauan Riau
6. Universitas Abdurrab, Riau
7. Universitas Jambi, Jambi
8. Universitas Bengkulu, Bengkulu
9. Universitas Malahayati, Lampung
10. Universitas Muhammadiyah Jakarta, Jakarta
11. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta
12. Universitas Islam Bandung, Bandung
13. Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon
14. Universitas Muhammadiyah Semarang, Semarang
15. Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta
16. Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta
17. Universitas Tanjungpura, Kalimantan
18. Universitas Warmadewa, Bali
19. Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat
20. Universitas Islam Al Azhar, Nusa Tenggara Barat
21. Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur
22. Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah
23. Universitas Haluoleo, Sulawesi Tenggara
24. Universiras Pattimura, Maluku

sumber : ban-pt.kemdiknas.go.id/direktori.php
Selain berakreditasi C, ada juga fakultas kedokteran yang tidak memiliki akreditasi hingga sekarang, beberapa diantaranya:
1. Universitas HKBP Nommensen, Medan
2. Universitas Baiturrahmah, Padang
3. Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jawa Tengah
4. Universitas Katolik Widya Mandala, Surabaya
5. Universitas Palangkaraya, Kalimantan
6. Universitas Al Khairaat,Sulawesi Tengah
7. Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan
8. Universitas Cenderawasih, Papua
sumber : ban-pt.kemdiknas.go.id/direktori.php
Dari 33 fakultas kedokteran yang telah disebutkan diatas, akhirnya kami menemukan 4 fakultas kedokteran yang dapat dikategorikan abal-abal, telah lama berdiri namun akreditasi masih C bahkan tidak terakreditasi meskipun sudah 2 periode akreditasi (tiap 5 tahun sekali), fasilitas tidak memadai, tenaga pengajar yang kurang kompeten, dan keluhan kulitas alumni di masyarakat. Berikut kami paparkan.

4. Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati (Unmal)
Status : Swasta
Berdiri : 1994 (19 tahun)
Akreditasi : C (tidak pernah naik selama 3 periode re-akreditasi)
Fasilitas : Cukup Baik
RS Pendidikan : Tidak Ada
Keluhan : Seleksi mahasiswa baru tidak ketat, Siswa lulusan IPS dan STM bisa menjadi mahasiswa kedokteran

3. Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah (Unbrah)
Status : Swasta
Berdiri : 1994 (19 tahun)
Akreditasi : Tidak ada (sudah 19 tahun tidak ada akreditasi?)
Fasilitas : Kurang
RS Pendidikan : Tidak Ada
Keluhan : Dokter alumni FK Unbrah sering diprotes pihak rumah sakit karena kurang kompeten menangani pasien
Pertanyaan : Selama 19 tahun Dikti dan IDI Padang tidak ada yang protes sama sekali dengan progress kualitas FK Unbrah?

2. Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia (UMI)
Status : Swasta
Berdiri : 1968 (45 tahun)
Akreditasi : C (sudah 9 periode re-akreditasi masih C)
Fasilitas : Kurang
RS Pendidikan : Tidak Ada
Keluhan : Mayoritas dosen terbang atau pinjaman dari FK USU dan bergelar dokter umum jarang yang spesialis, Tidak punya ruang atau gedung sendiri (bercampur antar fakultas kedokteran dengan fakultas lain).
Pertanyaan : Mengapa pelaksanaan UKDI Kota Medan bisa dilaksanakan di FK UMI padahal kualitasnya masih dibawah rata-rata?

1. Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (UISU)
Status : Swasta
Berdiri : 1965 (48 tahun)
Akreditasi : C (sudah 9 periode re-akreditasi masih C)
Fasilitas : Kurang
RS Pendidikan : Tidak Ada
Keluhan : Mayoritas dosen terbang atau pinjaman dari FK USU dan bergelar dokter umum jarang yang spesialis, Permasalahan legalitas ijazah
Pertanyaan : FK UISU sudah berdiri 48 tahun berdiri, namun kualitasnya tidak meningkat, apakah ini disengaja hanya komersialisasi pendidikan? Padahal uang kuliahnya Rp 45 juta per tahun.


Hasil data yang kami dapatkan adalah dapat dipertanggungjawabkan. Kami telah menerima pengaduan dari seorang dosen Fakultas Kedokteran Universitas Riau yang telah melaporkan artikel ini sebelumnya. Kami berterimakasih atas tanggapannya, namun sangat disayangkan artikel terdahulu dilaporkan sebagai hoax. Semoga beliau lebih bijak dalam melakukan tindakan, karena informasi ini diperuntukkan untuk publik, bukan perorangan.

| Sumber dikutip kompasiana.com |