Iklan

Muthowif Pertanyakan Anggaran Bantuan Ternak, Sapi & Pakan

Surabaya -  Harga daging sapi yang cenderung stabil di harga tinggi dinilai tidak mendatangkan keuntungan riil bagi kalangan peternak rakyat. Ketua Forum Peternak Sapi Indonesia, Nasyir Alhamdie, mengaku hanya menikmati keuntungan semu ketika harga daging mahal.

"Kami memang untung, tapi untung semu. Karena menyesuaikan kebutuhan pasar juga," kata Nasyir disela-sela rapat koordinasi dengan para jagal sapi di Surabaya, Ahad 24 November 2013. Menurutnya, harga sapi hidup saat ini juga fluktuatif menyesuaikan pasokan.

Peternak rakyat, kata Nasyir, berbeda dengan peternak industri atau spekulan. Peternak rakyat, biasanya bekerja mulai dari pembibitan, budi daya, pembesaran dan penjualan. Peternak rakyat terus melakukan kegiatan budidaya sapi.

Sedangkan spekulan, kata Nasyir, cenderung mengambil untung dari penjualan sapi dan enggan melakukan budidaya sapi. Bila harga beli rendah dan dijual saat harga tinggi, spekulan dipastikan meraup untung. "Kalau peternak rakyat keuntungannya semu. Karena uang hasil penjualan sapi, digunakan untuk budidaya sapi lagi dan budidaya sapi tidak tergantung harga," katanya.

Ia mencontohkan, pada 2011, duit Rp 100 juta bisa membeli 10 ekor sapi bakalan. Namun, tahun ini uang sebesar itu hanya bisa untuk mendatangkan 7 ekor sapi.

Untuk menekan harga daging, ia mendesak pemerintah agar mendorong semua stakeholder melakukan pembibitan massal, termasuk para jagal sapi dan spekulan. Selain itu, pemerintah harus segera memperbaiki tata niaga sapi. "Jagal seharusnya juga dibebani pembibitan, jangan hanya mengatakan cuma motong," ujar Nasyir.

Wakil Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar Kota Surabaya, H. Hadiri, menuturkan harga daging sapi di pasaran terus menanjak. Ia mendesak pemerintah Provinsi Jawa Timur menegakkan perda dan melarang sapi siap potong keluar daerah.

Hadiri mengakui, jagal di Jawa Timur kalah bersaing dengan spekulan asal DKI Jakarta dan Jawa Barat. Sebab, spekulan berani menawar harga sapi hidup siap potong lebih tinggi daripada jagal di Jawa Timur. "Jawa Timur bukan lumbung sapi lagi. Kami ini juga kesulitan mendapat pasokan daging."

Saat ini, harga sapi hidup pembibitan sebesar Rp 50 ribu per kilogram. Harga sapi hidup siap potong sebesar Rp 40-42 ribu per kilogram. Adapun harga sapi bakalan sebesar Rp 38-40 ribu per kilogram.

Sementara menurut Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur Anggaran Bantuan Ternak tinggi dari pemerintah, " yang mnarik di sini adalah, anggaran besar namun menyustnya juga besar, ini perlu diadakan evaluasi unuk semua progam bantuan sapi, pakan dan kandang dan insiminasi buatan Insiminasi buatan (IB), karena Melihat kondisi jumlah sapi di Jatim yang cendrung mnyusut mencapai 24.22 % (BPS) sedangkan besarnya anggaran mencapai (210,5 M dan 12 IB), jumlah sapi yusit 24,22% ditahun 2013), sedangkan ditahun 2012 total anggaran bantuan ternak sapi dan pakan diatas 110 M, Akibat sapi nyusut, harga sapi baik bakalan maupun siap potong terus mengalami kenaikan. Sekarang harga sapi siap potong Rp42,000/kg, karkas Rp78,000/kg s/d Rp80,000/kg, dan harga daging di pasar Rp88,000/kg s/5 Rp92,000/kg. Sedang yg bagus mencapai Rp100,000/kg.
" tambah Muthowif ketua  ketua PPSDS Jawa Timur yang saat ini mencalonkan anggota legislatif dapil VI  nomor urut 2 Provinsi Jawa timur  dari Partai Nasdem. (tom)