Iklan

Ini Julukan Kabupaten Aceh Tamiang "Negeri Raja Muda Sedia"

Aceh Tamiang- Kabupaten Aceh Tamiang, kabupaten yang dikenal dengan julukan "Negeri Raja Muda Sedia." Dan seperti diketahui Kabupaten ini letaknya antara perbatasan Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumatra Utara dan juga merupakan salahsatu kabupaten pemekaran, sejak Juli 2002 lalu dari Kabupaten induknya yakni, Kabupaten Aceh Timur.
Menurut, Nora Idah Nita, SE, salah seorang Tokoh Perempuan Kabupaten Aceh Tamiang dan juga Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kabupaten Aceh Tamiang, kepada Wartawan, Senin (30/12/13), menuturkan, Kabupaten Aceh Tamiang merupakan satu-satunya kawasan di Aceh yang dikuasai oleh etnis Melayu, dan selain etnis Melayu, ada beberapa etnis lainnya yang bermukim di wilayah ini, diantaranya ada etnis Aceh, Gayo, Jawa, Tapanuli dan Karo. Mereka hidup bersatu dan saling menjaga kerukunan antara sesama.
"Kabupaten ini berada di jalur timur Sumatera yang letaknya cukup strategis dan hanya berjarak lebih kurang 250 km dari Kota Medan sehingga akses serta harga barang di daerah ini relatif lebih murah dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di Provinsi Aceh," jelas Nora.
Di samping itu juga menurut Nora, daerah ini relatif lebih aman, termasuk semasa terjadinya konflik Aceh dulu.
Dia menambahkan, masyarakat Tamiang dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kebersamaan, hal tersebut tidak hanya dibangun antara sesama etnis Tamiang saja, namun juga dengan etnis-etnis lainnya, tambahnya.
Lebih lanjut Nora menjelaskan, salah satu penyebab tentang kuatnya semangat persatuan di Negeri Tamiang dikarenakan masyarakat Tamiang sangat mengamalkan filosofi sejarah budaya Tamiang yang cinta kebersamaan, seperti kata petuah para leluhur Tamiang yang juga di adopsi untuk moto Kabupaten Aceh Tamiang "Kaseh Pape Setie Mati."
Selain itu, Raja Tamiang yang tersohor, Muda Sedia juga pernah mentitahkan pesan agar Tamiang harus selalu menjaga persatuan antara sesama, "Iler boleh pecah, Ulu boleh pecah, tetapi Tamiang tetap harus bersatu."
Ianya juga menceritakan, istilah "Tamiang" berasal dari kata Da Miang. Sejarah menunjukkan tentang eksistensi wilayah Tamiang seperti prasasti Sriwijaya, kemudian ada riwayat dari Tiongkok karya Wee Pei Shih yang mencatat keberadaan negeri Kan Pei Chiang (Tamiang), atau Tumihang dalam Kitab Nagarakretagama.
Daerah ini juga dikenal dengan nama Negeri Muda Sedia, sesuai dengan nama Raja Muda Sedia yang memerintah wilayah ini selama 6 tahun (1330-1336). Raja ini mendapatkan Cap Sikureung dan hak Tumpang Gantung dari Sultan Aceh atas wilayah Karang dan Kejuruan Muda pada masa itu.
"Kabupaten Aceh Tamiang juga merupakan kawasan kaya minyak dan gas, meski jumlahnya tidak sebesar Kabupaten Aceh Utara dan daerah ini juga merupakan salah satu pusat perkebunan kelapa sawit di Aceh. Di samping itu, Aceh Tamiang juga mengandalkan sektor pertanian dan angkutan karena posisinya yang strategis, dan angkutan air merupakan salah satu primadona alternatif karena kabupaten ini di aliri oleh dua sungai besar yakni Sungai Tamiang yang terpecah menjadi simpang kiri dan simpang kanan dan Sungai Kaloy." Ujar Ketua DPC Partai Demokrat ini.
Kabupaten Aceh Tamiang juga memiliki beberapa tempat wisata." yang hingga saat ini perlu penataan yang serius dan dikelola dengan baik seperti tempat wisata air terjun tujuh tingkat, bendungan, Gua Walet dan Pantai Seruway. Ini perlu mendapatkan perhatian untuk dapat dikelola menjadi sumber pendapatan asli daerah," demikian pungkas Nora. (F- 75)