Iklan

Media Online, Antara Eksistensi & Upaya Pemarjinalan

Oleh: Ecevit Demirel
* Korwil Sumatera Aliansi Media Online & Telekomunikasi Indonesia (AMOI)

MEDIA online atau biasa juga disebut portal berita, kini semakin menjadi ancaman serius bagi media cetak (koran, tabloid atau majalah), karena semakin hari teknologi informasi makin berkembang.

Sementara pada sisi lain, media massa konvensional dihadapkan dengan biaya produksi dan distribusi yang mahal. Belum lagi tinjauan dari sisi kelestarian lingkungan hidup.

Apa yang dipaparkan Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen, Suwarjono, ketika menjadi panelis Seminar New Media: Pembaca, Laba dan Etika di Palembang Maret 2013 lalu, bahwa saat ini -- dari 260 juta jiwa penduduk Indonesia, sebanyak 23 persen di antaranya telah menjadi pembaca setia beragam media online -- merupakan fakta bahwa eksistensi media online, perlahan namun pasti mulai diperhitungkan.

Perkembangan pesat teknologi internet mendorong semakin banyak pengakses media online.

Untuk mengakses portal, saat ini tidak semata mengandalkan komputer atau laptop, namun bisa melalui telpon genggam atau alat komunikasi bergerak lain. Ini fenomena nyata bahwa telah terjadi pergeseran perilaku pemakai alat komunikasi digital, dari berbasis desktop kepada gadget bergerak.

Sungguh sulit untuk disangkal bahwa kehadiran teknologi sehingga melahirkan media online, sungguh luar biasa dampaknya terhadap percepatan komunikasi di negeri ini.

Adalah fakta bahwa kini media massa cetak nasional menghadapi stagnansi akibat pembaca sudah beralih ke portal berita.

Kondisi tersebut tentunya mesti disikapi secara bijak oleh pemilik media cetak, apakah akan mempertahankan koran, tabloid atau majalah. Bertransformasi menjadi media online juga pilihan penting dan ini telah dilakukan oleh sejumlah media cetak group ternama. Tak sedikit yang saat ini telah pula memiliki media online, sebagai proses transformasi, bilamana kelak kecenderungan masyarakat membaca media cetak semakin menurun dan lebih mempercayai media online sebagai sumber informasi cepat dan akurat.

Redaktur Senior kompas.com, Heru Margiyanto, dalam sebuah seminar, mengungkapkan, sejumlah media besar di Amerika Serikat membuktikan, menghentikan produksi media cetak dan menganti dengan portal adalah pilihan tepat. Sebagai contoh ia menyebut "Newsweek" yang kini tidak terbit lagi dalam bentuk cetak, melainkan online.

Kita mengakui, Indonesia baru memiliki sekitar 65 juta pengakses internet. Akan tetapi kondisi ini akan terus berkembang dan bukan tidak mungkin media online akan semakin memasyarakat, serta mendapat porsi selayaknya sebagai corong informasi pemerintah dan mitra-mitranya yang lain.

Maraknya media online yang diterbitkan secara swadaya namun dikelola secara profesional dan memenuhi kaidah kode etik jurnalistik, berpotensi mengalahkan monopoli media cetak harian di group besar yang (maaf) dalam bereksistensi juga masih "menyusu" atau masih ketergantungan pada anggaran pemerintah, terutama di daerah.

Apresiasi terhadap eksistensi media online di Indonesia juga datang dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Menurut pria yang akrab disapa "Ahok" tersebut, media online pula yang membesarkan nama Jokowi-Basuki serta rutin menyampaikan segala kebijakan yang dilakukan Pemprov DKI.

Ia melihat, berita di media online itu bisa sampai 2.500 tiap bulannya. Itu baru berita tentang dirinya. Belum lagi kalau ditambah berita tentang Jokowi, Gubernur DKI. Bisa sampai 5.000 berita.

Melalui media online pula, tambah Basuki, ia dapat mengetahui respons masyarakat atas sebuah kebijakan. Komentar-komentar pembaca online tersebut membuat Basuki mulai memperbaiki sikapnya yang keras. Ia mengakui, sejak memimpin Jakarta bersama Jokowi, sikapnya telah berubah menjadi lebih lunak dari sebelumnya.

Media online dengan kecepatan, akurasi data dan aksesnya yang sangat luas, perlu kiranya mendapatkan apresiasi lebih dari masing-masing media partner mengingat definisi dari kata "online" adalah "hidup" (di dunia maya) dan pemberitaan di media jenis ini "hidup" serta bisa dibuka dimana saja kita berada sepanjang ada jaringan internet dan ada perangkat untuk online.

Plus minus pemberitaan media online -- mengingat banyak juga media jenis ini yang pemberitaannya kritis/investigatif -- sepanjang memenuhi akurasi dan berdasarkan data dan fakta, hendaknya menjadi cermin bagi segenap kalangan untuk berbenah dan introspeksi diri, bukan malah bersikap frontal, memarjinalkan atau bahkan mengkesampingkan peranan media online sebagai bagian dari pilar keempat demokrasi di Indonesia.

Diakui atau tidak, pemberitaan media online rata-rata lebih cepat, lebih apa adanya, juga mampu menembus perbedaan waktu di berbagai belahan dunia. Informasi bisa disampaikan secara bypass melalui email, jejaring sosial seperti Twitter/Facebook dan sejenisnya. Kenyataan ini pula agaknya yang membuat banyak pihak yang mengerti/mengetahui kelebihan media online merasa risih bahkan "alergi" lalu berupaya membangun opini negatif tentang media online. Bahkan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Jero Wacik, Juli 2013 lalu sempat bereaksi terhadap pemberitaan media online. Ia memberikan pernyataan kontroversial bahwa media online menuliskan berita dengan sumber yang tidak jelas bahkan sulit untuk dikonfirmasi.

Menurut Jero kala itu, media online bikin berita enggak jelas, sumbernya enggak jelas. Jero. Menilai, media cetak lebih jelas ketimbang media online karena media cetak dapat dipertanggungjawabkan berita dengan menulis yang jelas.

"Kalau media cetak kan jelas, kalau ada apa-apa, bisa dikritik, ketahuan penulisnya, bisa ditelepon," ujar Jero.

Pernyataan Jero tersebut, mengundang reaksi keras banyak organisasi wartawan dan asosiasi media online. Selain mengecam, rata-rata menilai bahwa pernyatan Jero Wacik merupakan pernyataan yang berbahaya dan mengancam semangat kebebasan pers.

Pernyataan Jero Wacik yang mengklasifikasikan pemberitaan media online sebagai surat kaleng dan tidak jelas dalam pernyataannya jelas-jelas merupakan bentuk diskriminasi media di mana ia menyebutkan bahwa pemberitaan media bentuk cetak lebih jelas dibanding pemberitaan media online. Buntutnya, beberapa bulan setelah polemik seputar pernyataan Jero Wacik reda, jajaran Kementerian ESDM menjadi sorotan menyusul terbongkarnya kasus dugaan korupsi di SKK Migas yang masih merupakan jajaran Kementerian ESDM.

Hingga saat ini, masih banyak pihak beranggapan bahwa pencitraan sebuah lembaga atau individu lebih aman lewat media cetak, mengingat media konvensional tersebuh masih menjadi konsumsi masyarakat awam internet. Sebaliknya, media online dan sejenisnya masih dianggap sebagai bacaan kalangan cerdas dan kritis, sehingga ada semacam "kegamangan" bagi sejumlah pihak untuk tampil di media online. Alhasil, masih banyak upaya pemarjinalan media online di banyak kalangan, terutama di tataran birokrasi.

(**)