Iklan

Wali Nanggroe :  Biaya Perang Mahal, tetapi Biaya Merawat Perdamaian Justru Lebih Mahal  

Banda Aceh . Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Alkhaitar menegaskan, sebuah peperangan membutuhkan biaya besar, namun justru jauh mahal merawat perdamaian. Bahkan untuk merawat perdamaian demi rakyat Aceh, maka masyarakat Aceh  juga siap berkorban lebih demi sebuah kesejahtraan dan keadilan. 

Hal tersebut disampaikan Wali Nanggroe Malik Mahmud Alkhaitar saat menyampaikan sambutannya pada pengukuhannya sebagai Pemangku adat, budaya dan pemersatu masyarakat Aceh, yang dikenal Wali Nanggroe. Acara tersebut dipusatkan di Gedung DPRA Senin (16/12).

Ungkapnya Rahmat Perdamaian yang ALLAH SWT berikan kepada rakyat dan tanah Aceh, merupakan sebuah contoh bagi Internasional dan bangsa-bangsa lain di dunia. Karena Aceh yang dilanda perang dari tahun 1976 hingga 2005, ternyata berahkir disebuah meja perundingan dengan mengedepankan perdamaian, dengan saling menghargai dan mengakui sesama pihak yang bertikai.  Bahkan penghargaan dan pengakuan itu, terjalin harmonis antara Aceh dengan Pemerintah Republik Indonesia.

Salah satunya pemerintah Pusat memberikan pengakuan otonomi khusus bagi Aceh, dengan UUPA sesuai MoU Helsinki. Salah satunya pemerintah pusat mengakui  keberadaan wali Nanggroe, dan lambang bendera Aceh. Sedangkan  Aceh mengakui perdamaian yang tercipta dibawah pangkuan NKRI.

Ujarnya Wali lagi, persoalan yang mengganjal Aceh saat ini, peradaban anak-anak Aceh saat ini masih jauh tertinggal dibanding negara luar, baik dibidang pendidikan, inovasi dan kreativitas. Walau kondisi saat ini jauh bertolak belakang dari sejarah peradaban Aceh yang menjadi tolak ukur perdaban dunia.

Untuk itu, jalan satu-satunya menurut Malik Mahmud untuk mengembalikan peradan Aceh yang kini tertinggal, haruslah memacu sumber daya manusia rakyat Aceh, apalagi pendidikan bagi anak-anak Aceh.

Malik Mahmud optimis, upaya kerja keras memajukan SDM rakyat Aceh dan dengan kesabaran dan keinginan yang tinggi, peradaban Aceh, di tahun 2015 akan maju dan setara dengan negara-negara di kawasan ASEAN. 

Sementara itu, Ketua DPRA Aceh Hasbi Abdullah pada acara rapat paripurna istimewa pengukuhan Wali Nanggroe mengatakan, Makna penghargaan atas kewenangan kekhususan, dan kebesaran Aceh yang diperoleh saat ini  mampu mengahkiri perderitaan panjang rakyat Aceh yang telah mengorbankan waktu, Nyawa dan harta, ( one 1  )
 
Powered by Telkomsel BlackBerry®