Iklan

Gubernur Kunjungi Rumah duka Orangtua Wakapolda Aceh

BANDA ACEH- Gubernur Aceh, dr. H Zaini Abdullah bersama istri Hj Niazah A Hamid, Sabtu (11/114) mengunjungi rumahduka almarhum H Abdul Hamid bin Maddan (82) orangtua Brigjen Pol. Drs Husein Hamidi Wakapolda Aceh di Gampong Paya Pisang Klat Kecamatan Bandar Dua Pidie Jaya.
Orangtua Wakapolda ini meninggal Jumat (10/1/14) di Paya Pisang Klat dan dikebumikan di hari dan gampong yang sama.
Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh H Nurdin F Joes, mengatakan, bersama Gubernur juga hadir Wali Nanggroe Aceh Tengku Malik Mahmud Al-Haytar dan sejumah pejabat Pemerintah Aceh. Antara lain, Sekda H Dermawan, Asisten III H Muzakkar A Gani, Karo Isra Ilyas Nyak Tui, dan sejumlah Kepala SKPA lainnya.
Wakapolda Husein Hamidi, atas nama keluarga mengatakan, Gubernur Zaini bersama istri dan Wali Nanggroe Malik Mahmud terasa sangat besar memberikan perhatian dengan berkunjung ke rumahduka.
Ini sama artinya, telah menghibur keluarga yang sedang menerima cobaan Allah. "Gubernur sengaja datang dari jauh, Banda Aceh ke gampong Paya Pisang Klat," katanya.
Menurut Husein, perhatian Gubernur tidak dapat dibalas, kecuali Allah yang membalasnya.
Husein juga menyampaikan kisah kecil di gampong itu yang berjarak sekitar 6 km ke selatan kota Ulee Glee. Ayah dan Ibunya adalah asli Paya Pisang Klat, dan Husein terlahir di desa itu. Istri Husein berasal dari kecamatan Trienggadeng, Pidie Jaya.
Husein baru keluar dari Gampong Paya Pisang Klat setelah tamat SD, 1974. Lalu melanjutkan SMP di Samalanga Bireuen. Sementara SMA diselesaikan di Banda Aceh, seterusnya meniti karier di kepolisian dan masuk melalui jalur Akabri.
Atas nama masyarakat setempat dia juga berterimakasih kepada Pemerintah Aceh karena sejumlah bantuan APBA sudah disalurkan untuk pembangunan meunasah Paya Pisang Klat.
Ingat Mati
Pada kunjungan duka ke rumah orangtua Husein, Pemerintah Aceh ikut menyertakan Ustadz DR Munawar A Djalil MA.
Sang ustadz dalam tausiyahnya mengatakan, orang yang cerdas adalah orang-orang yang selalu mengingat kematian.
Dengan itu sebelum mati, orang cerdas akan mempersiapkan bekal amalan yang cukup untuk menjadi pelindung di hari kelak.
Munawar menamsilkan orang-orang sebelum mati sebagai perantau.
Sebagai perantau di negeri orang, maka seseorang berdaya upaya membeli rumah, kebun, dan harta benda lainnya di kampungnya. Lalu, bila suatu saat kembali ke kampung asal, maka seseorang tersebut telah memiliki bekal yang cukup untuk menjalankan kehidupanya yang baru.
Munawar menambahkan, ada tiga bekal penting yang mesti dimiliki seseorang sebelum meninggal. Yaitu, bekal amalan dan ilmu yang bermanfaat, sedekah jariah, dan anak shaleh. (d- 77)