Iklan

Politik Untuk Membangun Demokrasi

Langsa, OPINI- Banyak pembahasan menjelang pemilu selalu dikaitkan dengan politik dan hampir semua masyarakat tertarik jika diajak bicara tentang politik, mulai dari profesi tukang parkir, tukang becak, buruh bangunan, pengusaha, sampai konglomerat sekalipun. Apalagi mereka simpatisan partai politik atau para calon legislatif yang dalam hitungan hari sudah berkompetisi lewat pemungutan suara pada tanggal 9 April 2014 mendatang.

Khusus di Aceh, hampir setiap sudut warung kopi selalu ramai dikunjungi para pakar politik dari berbagai profesi hanya untuk membaca koran dan membahas perkembangan politik dari mulai calon DPRD, DPD sampai calon DPR RI.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah apakah politik itu sebenarnya ? Politik dalam bahasa Arabnya disebut Siyasyah, yang selanjutnya kata ini kemudian diterjemahkan menjadi siasat, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut Politics. Politik itu sendiri memang berarti cerdik dan bijaksana.

Keberadaan politisi yang maju sebagai calon legislatif seyogyanya putra-putri terbaik bangsa ini yang memiliki kemampuan kecerdikan dan bijaksana, sebab profesi yang akan diemban selama lima tahun sangat erat kaitannya dengan manusia yang hidup bersama, dalam hubungan itu timbul aturan, perilaku pejabat, legalitas kekuasaan dan akhirnya kekuasaan.

Tugas yang mulia dalam mengemban amanah rakyat dan memperjuangkan hak-hak rakyat akan dapat terlaksana jika legislatif memiliki kemampuan dan motivasi yang bersih untuk membangun bangsa ini. Dewan Perwakilan Rakyat adalah kumpulan orang-orang yang diberi amanah oleh rakyat, yang kemudian berfikir dan berbuat untuk memajukan dan mensejahterakan rakyat dan bahkan harusnya juga berani berkorban, harta bahkan nyawa demi dan untuk kemajuan bangsa dan negara, sebagaimana kisah para pejuang dan patriotis bangsa ini.

Demokrasi yang bergulir di negeri ini masih jauh dari impian, bahwa demokrasi itu dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat belumlah seutuhnya terwujud, tetapi pada kenyataanya rakyat selalu terinjak dan walaupun mereka berjumlah banyak hanya diam (silent mayority). Voz Populey Vox Dey suara rakyat adalah suara Tuhan, masih menjadi angan-angan bangsa ini.

Perkembangan politik harus terus berjalan untuk mewujudkan tatanan demokrasi yang ideal dengan konsep-konsep saling menghargai perbedaan baik suku, ras maupun agama, serta tidak melakukan intimidasi terhadap kelompok minoritas, sebab kegiatan politik itu harusnya mendidik masyarakat sehingga partisipasi masyarakat dalam pemilu sebagai wujud demokrasi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Tanpa harus menggunakan cara-cara ekstrim apalagi dengan cara kekerasan atau teror, sebab prilaku ini akan mencederai proses demokrasi di Indonesia.

Siapapun yang telah terpilih nantinya menjadi Legislatif adalah amanah rakyat, maka ia haruslah menjalankan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya serta menjalankan dengan benar sesuai dengan visi dan misi ketika ia berkampanye kepada rakyat.

Selanjutnya jangan jadikan jabatan ini sebagai alat untuk memperkaya diri atau kelompok tertentu. Alangkah naifnya jika salah satu fungsi penyusunan anggaran, kemudian mereka menyusun strategi untuk tender yang kemudian dimenangkan kroni tertentu untuk kepentingan sekelompok orang demi kepentingan politik. Alangkah naifnya ketika mereka menyusun undang-undang dan peraturan yang ternyata itu semua dibuat untuk kepentingan kelompok tertentu dan serta mengabaikan kepentingan masyarakat luas.

Maka untuk menilai seorang politisi perlu dipertanyakan agamanya atau yang sering disebut Spiritual Question (SQ), serta perlu dipertanyakan keilmuannya. Maksud semua ini agar ketika ia menjadi legislatif tidak mengalamai distorsi, serta dekadensi moral. Iman dan ilmunya akan mampu membawa kepada kebijakan-kebijakan yang baik dan berguna untuk rakyat. Jika ini menjadi dasar moral politisi maka perilaku korupsi, penindasan, kedzaliman dan kesewenang-wenangan, serta ketidakadilan akan sirna dari bumi pertiwi.

Butuh waktu beberapa dekade bangsa Indonesia dalam membangun demokrasi, banyak peristiwa telah terjadi dan menjadi catatan sejarah dari masa Orde Lama, Orde Baru, masa Reformasi, sampai sekarang. Semua ini tidak lepas dari perkembangan politik menuju demokratisasi di Indonesia. Semoga pembelajaran politik ini bukan hanya menjadi milik politisi saja, namun masyarakat hendaknya menjadi jeli, cepat tanggap dalam menyikapi perkembangan demokrasi sehingga masyarakat tidak hanya menjadi objek politik yang selalu dikorbankan oleh para politisi dalam mencapai kekuasaannya.

Penulis : Muhammad Khairi
Pemerhati Sosial Politik
Kandidat Master Sosial Politik Islam Pasca Sarjana IAIN Sumatra Utara Medan.
Wakil Ketua Pengurus Pusat Korp Alumni Zawiyah Cot Kala (PP KOPAZKA) Langsa, Anggota DPC PPWI Kota Langsa.
Powered by Telkomsel BlackBerry®