Iklan

Bu Leukat Kuah Tuhee Tradisi Aceh Tempoe Doeloe

Aceh Timur - Kenduri bu leukat kuah tuhee (Kenduri nasi pulut berkuah bersantan_Red) merupakan adat tempoe doeloe ( masa lalu). Hal ini biasanya sering dilakukan disaat- saat memanen sesuatu. Seperti para Petani Gampong Buket Seuraja Kecamatan Julok Kabupaten Aceh Timur untuk mensyukuri hasil panen padi nya mengelar kenduri tersebut diperkarangan meunasah gampong setempat, Kamis 24 April 2014 lalu.

"Kami menggelar kenduri ini sebagai bentuk wujud rasa syukur atas segala Rahmat Allah yang telah melimpahkan hasil panen padi yang sangat baik di musim tanam tahun ini," kata Keujruen Blang Gampong Buket Seuraja, Ibrahim Mik alias Ayah Pacek, kepada Wartawan, Jumat (25/4/14).
Pelaksanaan kenduri Bu leukat kuah tuhee juga bertujuan untuk melestarikan sebuah tradisi lama." Dulu, sebelum adanya mesin perontok padi, disaat selesai memotong para petani selalu berkumpul bersama untuk menyiangi buliran-buliran padi dengan memakai kedua kaki yang dibantu oleh dua tongkat kayu sebagai alat keseimbangan badan, dan sebagai makanan khas para pekerja adalah bu leukat kuah tuhee tersebut," kisahnya.

Geusyik Gampong Buket Seuraja, Tgk. Muliadi Dadeh menyampaikan, kenduri ini terselenggara atas inisiatif dari para petani dan termasuk hal finansialnya." Sebelum acara dimulai diawali dengan acara doa bersama yang dipimpin oleh Imam gampong setempat, Abi Mukhtar Khemeidi." Ujar Tgk Muliadi.

Sementara itu, Ketua Umum Serikat Petani Aceh Timur (SIPAT), Zulfadli Idris yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan, bahwa tradisi kenduri tersebut diselenggarakan disaat hendak turun ke sawah dan juga disaat selesai panen merupakan salah satu wasiat dari 21 (Dua puluh satu) wasiat dari Raja Aceh yang dipuja sepanjang masa, yakni Sultan Iskandar Muda kepada para rakyatnya. Dalam sejarah Aceh, wasiat tersebut dikenal dengan sebutan "The Aceh Code".

"Sedangkan tradisi kenduri bu leukat kuah tuhee, digelar pada saat selesai panen dan merupakan tradisi yang hampir punah dan sudah jarang sekali dilakukan oleh para petani pada zaman sekarang ini." Ujarnya.

Sebenarnya khanduri tersebut adalah sebuah tradisi yang mampu melahirkan nilai-nilai kebersamaan dan kekompakan antara sesama petani." Jadi, sudah sepantasnya para petani harus berupaya menjaga serta melestarikan tradisi itu," demikian pungkas, Zulfadli Idris. (d- 77)

Powered by Telkomsel BlackBerry®