Iklan

Renungan Jelang Pemilu 2014

Jakarta- Renungan ini hanya untuk diri sendiri, namun mungkin Anda juga mengalaminya. Satu hari lagi rakyat yang memiliki hak pilih di seantero negeri akan mendatangi TPS-TPS, memilih wakil-wakil mereka untuk diutus ke Senayan dan gedung-gedung perwakilan rakyat di daerahnya masing-masing. Semalaman ini saya coba unduh semua informasi tentang calon-calon wakil saya di DPR-RI, DPD-RI, dan DPRD DKI Jakarta.
 
Saya mulai dari menelusuri nama-nama calon legislatif (caleg) di daftar calon tetap di semua partai di semua dapil di Jakarta untuk DPR-RI. Ada beberapa "tokoh" yang mencalonkan diri menjadi caleg DPR-RI yang saya kenal baik dan pernah bertemu, termasuk memiliki nomor kontaknya. Tidak terkecuali di Dapil DKI Jakarta III, tempat saya berdomisili dan akan memilih di dapil ini, saya kenal beberapa orang caleg. Setidaknya ada tiga nama yang saya catat, yang saya kenal baik, pernah berkomunikasi, interaksi, dan jalin kerjasama. Mereka bertiga ada di partai berbeda.

Pada posisi ini, sebenarnya keteguhan hati untuk memilih salah satu di antara ketiganya mulai menguat. Namun, dilema muncul ketika sang caleg "idola" saya itu berasal dari partai yang kans keterpilihannya amat rendah, baik berdasarkan referensi survey, maupun kesan publik yang tersirat dari "riuh-rendahnya" pembicaran publik tentang partai "si do'i" ini. Dalam kondisi partai kurang dikenal seperti ini, caleg jagoan saya itu pasti kurang dilirik, kurang diminati, dan pada gilirannya kemungkinan besar kurang pemilihnya. Saya membatin, "sia-sia saja saya memilih dia, toh "sebiji" suara saya tidak mungkin mampu mendongkrak perolehan tokoh pujaan saya itu.

Akhirnya, dicari alternatif pilihan. Mungkin di partai mainstream (yang banyak dibicarakan dan terlihat banjir pendukung fanatik di mana-mana) ada seseorang yang saya kenal dan layak untuk saya beri kepercayaan mewakili kepentingan saya di Senayan. Saya lakukan penelusuran ulang, sambil mengingat-ingat wajah sahabat, kolega, dan kenalan saya selama ini. Saya pelototi semua wajah, nama, dan alamat para caleg di 2-3 partai papan atas tersebut. Tidak satupun yang saya kenal secara pribadi. Yang ada hanya 2-3 orang yang sering terlihat di televisi, karena dia selebritis dan sedang menjabat sebagai anggota DPR-RI saat ini.

Sebagai aktivis jurnalisme warga, saya menginginkan perubahan wajah yang duduk di lembaga terhormat DPR-RI itu. Harapan saya, mereka adalah para pemikir muda dam berkarakter idealis yang dapat menghadirkan suasana demokrasi cerdas-berbudaya, daripada sekedar penghasil UU yang cengeng mengadu ke polisi hanya "gara-gara" status BBM, coretan di twitter, keluh-kesah di email dan facebook, menulis buku, dan/atau foto-video polisi mabuk di jalanan yang diunggah di media youtube, dan lain-lain. "Indonesia butuh wakil rakyat yang mampu berpikir menggunakan logika filsafati yang pintar, cerdas, dan bijaksana," demikian guman yang berkecamuk di pikiran saya.

Proses mencari dan menetapkan pilihan kandidat wakil saya gagal total saat ini.
Selanjutnya, saya beranjak mengunduh dan menelusuri nama-nama caleg untuk duduk di lembaga Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI). Dari 35 orang caleg, banyak nama-nama baru. Walau 2-3 anggota incumben masih bertengger di antara caleg-caleg baru. Kembali saya mengalami dilema dalam memilih wakil untuk lembaga yang menamakan dirinya "Senat Indonesia" ini. Memilih caleg incumben, kita-kita sudah tahu kualitas kinerja mereka selama 5 tahun menjabat, bahkan ada yang sudah 2 periode menjabat. Rakyat belum melihat hasil kerja mereka yang berdampak signifikan bagi "kemerdekaan" rakyat.

Alternatif, memilih nama baru dari daftar caleg menjadi lebih rasional. Apa-lacur, dari lebih tigapuluhan nama yang ada, tiada seorangpun yang saya kenal secara personal. Mungkin saya kurang "gaul" sehingga tidak mengenal satupun di antara mereka? Entahlah.

Yang pasti saya gagal total lagi mencari dan menetapkan pilihan untuk wakil saya di DPD-RI.
Harapan terakhir tinggal memilih wakil saya di DPRD DKI Jakarta. Sebagai warga Jakarta yang baik, semestinyalah saya memberikan suara pada salah satu wakil untuk duduk di lembaga legislatif daerah DKI Jakarta. Sayangnya, kekecewaan saya makin bertambah, karena tak satupun di antara caleg-caleg daerah itu tidak ada yang saya kenal. Mereka semua "orang-orang asing" bagi saya, asing dari lingkungan sosial saya, asing dari lingkungan pemikiran saya, asing dari harapan dan impian ideal saya.
Huuff... ternyata perkara memilih wakil rakyat itu, jika diseriusi dengan baik menggunakan rasionalitas berpikir yang ideal, tidak semudah yang saya bayangkan semula. Pantas saja jika lebih banyak pemilih masuk bilik suara dan mencoblos "sekenanya" wajah-wajah yang terpampang di lembar-lembar suara tersebut. Persis seperti seorang murid dungu yang melingkari jawaban soal sekenanya, yang penting semua soal terisi jawaban, hasilnya benar atau salah itu nanti saja.

Atau saya yang sebenarnya dungu ? Sibuk memikirkan, menganalisa, dan "utak-atik" caleg pilihan, tapi ternyata hasil pemilu sudah kelar ditetapkan KPU sebelum prosesi pemilihan umum legislatif (dan juga pemilihan presiden) dilakukan, melalui rekayasa penggelembungan dan tawar-menawar angka suara misalnya?

Untuk kedua kalinya, lidah keluh sambil berguman: Entahlah...
Selamat memilih Indonesia, 9 April 2014. Jangan lupa berdo'a semoga coblosan sekenanya berbuah berkah, tangan-tangan yang mencoblos dibimbing oleh "the invisible hands" yang MAHA mengatur perjalanan setiap bangsa di muka bumi ini.

Penulis : Wilson Lalengke, S. Pd, M. Sc, MA Ketua Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI)

Powered by Telkomsel BlackBerry®