Iklan

Praktek Pungli Marak di Timbangan Seumadam

Aceh Tamiang - Maraknya praktek pungutan liar (Pungli) di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) atau Jembatan Timbang (Portable) di Jalan Medan- Banda Aceh Km. 490, Desa Seumadam Kecamatan Kejuruan Muda Kabupaten Aceh Tamiang, semakin merajalela dan terkesan dibiarkan pungli tersebut oleh dinas terkait.

"Sasarannya para supir truck angkutan barang, yang hendak keluar atau masuk Provinsi Aceh. Dan supir-supir tersebut selalu menyetor uang berkisar Rp. 50.000 hingga Rp. 200.000 atau disesuaikan dengan barang bawaannya sebagai pemulus agar muatannya tidak dipangkas oleh para oknum petugas Dishubkomintel yang bertugas." Demikian pungkas, Direktur LSM LembAHtari, Sayed Zainal Abidin, SH, kepada Wartawan, saat memantau langsung dilokasi timbangan tersebut, Sabtu ( 17/5/14). 

"Pihaknya menduga kuat praktek pungli yang dilakukan oleh para oknum petugas itu karena di perintahkan oleh Kepala UPPKB setempat. Sampai saat ini tidak ada satupun mobil truck barang yang melanggar aturan, dibongkar dan barangnya disita oleh petugas." Terangnya
Padahal bangunan gudang UPPKB Seumadam cukup besar." namun, gudang terlihat selalu kosong. Selama ini gudang tersebut hanya difungsikan untuk tempat parkir mobil-mobil pribadi para petugas jaga saja," timpal Sayed.


Praktek pungli di instansi milik Pemerintah Aceh itu, sudah berlangsung cukup lama dan bahkan tidak mengenal hari libur. "Diduga banyak oknum pejabat yang diuntungkan atas perbuatan yang sangat merugikan Negara tersebut." Tambah Direktur LembAHtari.

Dijelaskannya, disinyalir hasil pengutipan liar ini bisa mencapai Rp. 5 juta hingga Rp. 8 juta dalam setiap 24 jam, sehingga terendus sederetan nama-nama oknum yang mendapatkan jatah atas hasil haram itu." Ada oknum yang mendapat Rp.500 ribu, ada yang mendapat Rp.2,5 juta, dan bahkan ada yang mendapatkan dengan angka Rp. 6 juta per bulannya." Jelasnya.

Merujuk Surat Edaran Direktorat Jenderal Perhubungan Darat No; SE01/AJ.307/DRJD/2004, semestinya jembatan timbang yang saat ini berada dibawah pimpinan Bukhari, harus melakukan langkah komprehensif dan terpadu bersama instansi terkait lainnya.

"Dalam upaya pengendalian muatan yang melebihi kapasitas maksimal tonase, Bukhari seharusnya membangun kerjasama dengan Kimpraswil, Dep.Perindag, Kehutanan, dan juga Bea Cukai. Adapun tujuan utamanya adalah untuk mencegah terjadinya kerusakan jalan dan mengurangi angka kecelakaan lalulintas dan juga hal-hal yang lain." Imbuhnya.

Sementara diketahui, kata Sayed lagi, operasional UPPKB/Jembatan Timbang dibangun melalui bantuan lembaga donor Swiss tahun 2004. Seharusnya jembatan timbang tersebut dapat dijadikan model (pilot projeck) untuk pengawasan transportasi jalan raya.
"Akibat semakin maraknya praktek pungli yang dilakukan di UPPKB milik Provinsi Aceh tersebut, maka pihaknya akan melaporkan kasus tersebut secara pidana khusus ke Polda Aceh." Tutup Sayed.

Sementara itu, Bukhari, selaku Kepala di Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Seumadam, melalui selulernya menjelaskan, bahwa pemungutan liar ini sudah lumrah terjadi diseluruh Indonesia. Dan hal itu dilakukan atas pertimbangan karena merasa sayang kepada supir angkutan barang.

"Namun untuk truck-truck yang membawa muatan melebihi maksimal tonase, kami akan melakukan pembongkaran terhadap barangnya," demikian ungkap Bukhari. (Korlip Zona Timur | F- 75 )