Iklan

Lahan CPP Blang Nisam Kembali Bergejolak

ACEH TIMUR -  Lahan yang telah di bebaskan untuk lokasi Central Procesing Plend (CPP), Proyek Gas Blok A, yang terletak di Gampong (Desa_Red) Blang Nisam, Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur, kembali menimbulkan gejolak, Rabu, 11 Juni 2014 lalu.

Amatan globalaceh.com, adapun gejolak yang timbul seperti, penghadangan serta penghentian operasional terhadap 2 (dua) unit alat berat jenis escapator. Aksi ini dimotori oleh puluhan pemuda dari Kelompok Usaha Pembibitan Kayu, Hareuta Tani.

Aksi penghadangan serta penghentian alat berat tersebut terkesan dipaksakan oleh puluhan pemuda yang tergabung dalam Kelompok Usaha Pembibitan Kayu, Hareuta Tani. Pasalnya selama ini  Kelompok Usaha Pembibitan Kayu tersebut sudah terlanjur melakukan penyemaian ribuan bibit dilahan tersebut. Itu mereka lakukan diduga ada pihak- pihak yang mendalangi dengan harapan agar PT. Medco E&P Malaka dapat menganti rugi ribuan benih- benih yang telah disemai.

Hal tersebut dilakukan oleh kelompok usaha pembibitan kayu tersebut disinyalir adanya informasi yang didapat atau disetujui terkait penyemaian benih- benih tersebut oleh oknum staf PT. E&P Malaka dengan harapan PT. Medco dapat menganti segala kerugiannya.

Sementara akibat aksi tersebut, pihak PT. Medco bersama Camat Indra Makmu dan Pj Geuchik Blang Nisam, yang juga termasuk sebagai anggota TIM 9 dan didampingi oleh pihak Polsek dan Koramil Kecamaatan Indra Makmu, menggelar pertemuan dengan para perwakilan Kelompok Usaha Pembibitan Kayu 'Hareuta Tani', Kamis 12 Juni 2014 lalu.

Acara pertemuan tersebut digelar di Mapolsek Indra Makmu, dan dimulai sekira pukul  10.30 Wib. Pihak Medco, diwakili Zulkarnain Usman dan Mahmud dari unsur keamanan perusahaan, serta dari Humas perusahaan tersebut.

Sementara, dari unsur Muspika Kecamatan Indra Makmu, dihadiri Camat Indra Makmu, Saiful Anwar, SE, dan dari pihak Polsek Indra Makmu, diwakili oleh Kanit Intelkam, Bripka Iriadi dan dari pihak Koramil diwakili oleh Sertu Azhari.

Kemudian dari pihak Gampong Blang Nisam, yang hadir pada pertemuan itu yakni, Pj. Geuchik, Ismail. Sementara perwakilan dari Kelompok Usaha Pembibitan Kayu 'Hareuta Tani', yakni, Ketua Kelompok, Ismail, yang didampingi oleh anggotanya, Sulaiman alias Gondrong. Selain itu, hadir juga perwakilan dari unsur pemuda, Hasyem beserta perwakilan dari unsur masyarakat Gampong Blang Nisam, Tgk. M.Nur.
Pertemuan yang dibuka langsung oleh pihak Polsek Indra Makmu, yang diwakili oleh Kanit Intelkam, Bripka Iriadi. 

Dalam pertemuan tersebut, Ismail sebagai Ketua Kelompok menjelaskan, bahwa penghadangan dan penghentian operasional terhadap 2 (dua) alat berat di lokasi yang berada dalam wilayah Gampong Blang Nisam, Dusun TB IV (Telaga 24), hanyalah bertujuan untuk memohon kebijakan agar diberikan bantuan anggaran pemindahan bibit-bibit tanaman keras mereka, dari lokasi yang sekarang ke tempat yang lainnya.

"Dulunya mereka pernah berniat untuk menuntut pembayaran ganti rugi terhadap bibit yang telah mereka semai kepada pihak PT. Medco." Terang Ismail selaku Ketua Kelompok Usaha Pembibitan Kayu Hareuta Tani Seraya menunjukkan bukti copyan pertinggal atas permohonan ganti rugi yang pernah dikirim ke pihak PT. Medco,  20 Agustus 2013 lalu.

Ismail juga membeberkan, bahwa inisiatif tentang pengajuan surat permohonan ganti rugi  kepada pihak Medco, bukanlah ide yang muncul dari mereka, melainkan adanya dorongan yang kuat dari beberapa pihak, termasuk dari oknum mantan Geuchik Blang Nisam dan juga mendapat dukungan penuh dari pihak oknum staf PT. Medco E&P Malaka sendiri.

Zulkarnain Usman yang mewakili pihak PT. Medco mengatakan, keprihatinannya terhadap pemuda Desa Blang Nisam Kecamatan Indra Makmu yang telah bersusah payah membentuk kelompok usaha bersama dan telah bekerja keras melakukan penyemaian bibit tanaman keras.

"Untuk dipahami serta dimaklumi bahwa harapan dari pihak Kelompok Usaha Pembibitan Kayu 'Hareuta Tani' untuk mendapatkan anggaran ganti rugi terhadap bibit-bibit tersebut tidak mungkin terpenuhi. Pasalnya tidak ada landasan hukum bagi PT. Medco untuk menganti segala kerugiannya. Walaupun kelompok tersebut telah mengajukan permohonan izin kepada Tim 9 agar dapat dikeluarkan rekomendasi untuk pembayaran bibit-bibit tersebut." Pungkas Zulkarnain seraya menambahkan akan mempertimbangkan tentang biaya pemindahan bibit- bibit tersebut ketempat lahan yang lain dan akan membicarakan lebih lanjut dengan Tim 9.

Kemudian, setelah melakukan diskusi bersama, akhirnya disepakati beberapa point kesepakatan bersama antara pihak PT. Medco dengan perwakilan kelompok yakni, pihak kelompok bersedia memberi izin agar alat berat yang beroperasi di daerah tersebut tidak lagi dihadang atau dihantikan. Sementara pihak PT. Medco juga akan mempertimbangkan terkait tentang biaya pemindahan bibit- bibit tersebut ketempat lahan yang lain dan akan membicarakan lebih lanjut dengan Tim 9 yang ada di kabupaten Aceh Timur.

Tgk. M. Nur, selaku perwakilan masyarakat Desa Blang Nisam mengatakan, bahwa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut seharusnya turut melibatkan mantan Geuchik Blang Nisam yakni, Sabidin Yusuf dan Amni serta Azzubaidi dari pihak staf PT. Medco sebelumnya. "Pasalnya mereka mengetahui semua seluk beluk permasalahan yang terjadi di Gampong Blang Nisam karena sejak pembebasan tanah tahap awal mereka ikut andil," demikian terang M. Nur.

Sementara itu, Pj. Geuchik Blang Nisam Ismail mengatakan, semoga pihak Tim 9 Kabupaten Aceh Timur dan Pihak Managemen PT. Medco E&P Malaka, tidak menutup mata terhadap beban yang dirasakan oleh para pengurus serta para anggota Kelompok Usaha Pembibitan Kayu Hareuta Tani. Maka untuk itu ianya berharap dalam mengatasi persoalan tersebut Tim 9 dan pihak PT. Medco harus mampu bersikap arif dan bijaksana.
(F- 75)