Iklan

Pertamina: Mafia Migas Hatta Radjasa Bikin BBM Mahal

SURABAYA - Mafia minyak dan gas (migas) dengan gembong Hatta Radjasa dan Muhammad Riza Chalid membuat harga bahan minyak (BBM) menjadi mahal. Gembong mafia mengejar rente dengan mengorbankan rakyat.

Hal itu dikemukakan Direktur Perkuatan Aspirasi Masyarakat Indonesia (Pertamina) Jawa Timur, Indra Bagus Sasmito dalam aksi unjuk rasa di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Surabaya, Jumat (20/6). Pertamina, meminta Kejaksaan menangkap Hatta dan Riza.
"Hatta Radjasa dan Muhammad Riza Chalid, mendisain Indonesia selalu mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Indonesia disengaja tidak mempunyai pengolahan minyak, supaya impor terus, komisi untuk mafia jalan terus," ujar Indra.
Indra Bagus mengatakan, sungguh memalukan, Indonesia tergantung pada bbm impor. Indonesia memiliki sumber minyak mentah yang luar biasa, bahkan dikelola bersama perusahaan asing. Kita mengekspor minyak mentah, kemudian mengimpor minyak yang sudah diolah.
"Negara macam apa kita ini? Kalau baru merdeka, bisa dimaklumi. Tetapi dengan usia Indonesia yang sudah setua sekarang, mestinya sudah mempunyai pengolahan yang memadai. Para mafia migas sengaja merekayasa agar  Indonesia impor terus, supaya komisi pun jalan terus," katanya.
BBM yang dikonsumsi masyarakat sekarang ini, jauh lebih mahal dari yang seharusnya. "Keuntungan mafia migas keterlaluan, Rp 100 miliar per hari, Rp 3,6 triliun per bulan atau Rp 36 triliun per tahun," ungkap Indra.
Maka Kejati Jawa Timur, diminta segera menangkap Hatta Radja dan Riza Chalid, karena telah menghisap darah rakyat. Aparat hukum harus segera bertindak, agar nasib rakyat jangan lagi dipermainkan mafia migas dengan gembong Hatta Radjasa dan Riza.
Atas permintaan Pertamina Jawa Timur, Kejati menerima masukan dan berkas yang disampaikan Pertamina. "Kami terima masukan dan informasi saudara-saudara," kata pejabat Kejati yang menerima Pertamina. (if)

Caption foto:
Unjuk rasa mafia migas oleh Pertamina (Perkuat Aspirasi Masyarakat Indonesia) Jawa Timur di Surabaya Jumat (20/6)