Iklan

Gantikan "Senjata" dengan "Goe Cangkoy"

BANDA ACEH - Saat ini, kondisi yang dialami oleh mantan kombatan GAM pasca perdamaian dalam upaya reintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa adanya pembinaan para mantan kombatan. Sama juga dengan membiarkan goresan luka ditubuh tanpa mengobatinya hingga luka yang semula cuma sedikit lama-lama akan menjadi borok yang sulit diobati. Kalau dalam bahasa buku MoU "Eks kombatan akan reintegrasi/kembali ke masyarakat biasa", cuma kembali bak goe cangkoy (Gagang cangkul). 

Demikian diungkapkan Imran Nisam seorang mantan Kombatan GAM kepada Globalaceh.com dengan munculnya kekecewaan kelompok Din Minimi terhadap Pemerintah Aceh yang menganggap para mantan kombatan justru diabaikan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pasangan ZIKIR, Rabu (15/10/2014). 

Menurutnya, pasca damai tahun 2005 lalu sampai hari ini, tahun 2014 masih banyak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, kejadian demi kejadian baik menggunakan senjata api atau sajam, rata-rata melibatkan mantan kombatan GAM. 

"Ini harus kita sadari dan kita fahami bersama, baik saya yang menulis atau kawan-kawan eks kombatan lainnya di seluruh Aceh," ungkapnya. 

Lebih lanjut, Imran mengatakan kita semua mengalami nasib yang sama, cuma saya lebih beruntung dari teman-teman lain, karena 9 tahun sudah kita lewati proses damai ini saya tidak pernah terlibat dalam aksi kriminal apapun.

"Dan sampai hari ini Allah masih menyelamatkan saya, hingga bisa berkumpul dengan keluarga walau dalam kehidupan yang sangat sederhana. Saya mencoba memulai hidup baru, hidup tanpa masalah. Bagi eks kombatan yang masih diberi umur panjang, masih diselamatkan oleh Allah juga bisa berakit-rakit untuk memperjuangkan nasib dirinya masing-masing, karena kondisi hari ini sudah berbeda dengan kondisi sebelum Aceh damai," katanya.

"Saya tidak mampu berbuat apa-apa untuk memperjuangkan aspirasi kawan-kawan, saya cuma bisa menulis dan terus menulis hingga tulisan- tulisan saya bisa dibaca oleh seluruh rakyat Aceh khususnya dan warga Indonesia pada umumnya. Kita semua tidak ingin kembali ke masa lalu, tapi yang kita inginkan masa depan yang lebih baik dari masa lalu." Timpalnya.

Karena waktu terus berjalan dan waktu tak akan bisa kita hentikan, dengan waktu yang tersisa serta dengan segala kewenangan yang ada seyogyanya para pemimpin di Aceh dan pemimpin pusat untuk lebih serius dalam menyikapi setiap persolan di lapangan hari ini. Karena akar permasalahan pasca damai Aceh cuma satu, pembinaan eks TNA." Sekali lagi saya tekankan pada stake holder agar duduk bersama baik DPRA dan tokoh perdamaian untuk menyikapi secara serius tentang kondisi mantan kombatan hari ini. Jangan pernah menyepelekan setiap kejadian, karena itu akan menjadi bumerang bagi perdamaian Aceh secara permanen." Ujarnya lagi.

Apapun anggapan kita, mantan kombatan adalah mantan Tentara atau mantan pasukan perang yang telah diajarkan untuk memegang senjata." Mereka di didik untuk berperang bukan di didik untuk mengembala sapi atau untuk mencangkul sawah. Jadi selama ini sangat keliru, kalau mantan kombatan pemalas atau bermacam anggapan dari orang-orang yang sama sekali tidak tahu persolan. Semua butuh proses, semua yang kita inginkan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Maka para anggota DPRA wajib membuat satu qanun/aturan untuk pembinaan mantan kombatan dan pembinaan anak yatim, imbas konflik dan korban konflik. Jangan pernah jenuh dalam menyikapi semua permasalahan di lapangan hari ini, karena mereka semua adalah bagian dari kita," tegasnya.

Imran juga menghimbau, dengan adanya satu qanun/aturan yang dibuat oleh DPR Aceh maka Gubernur selaku perwakilan Pemerintah RI di Aceh bisa lebih fokus dalam membuat program-program permanenisasi perdamaian hingga semuanya akan teratasi." Inilah harapan saya kepada pimpinan di Banda Aceh dan para pencetus perdamaian yang sudah bersusah payah hingga terlaksana sebagaimana mestinya." Imbuhnya.

Semoga para pembaca dapat memakluminya,  karena yang menulis bukan tokoh intelektual atau seorang akademisi lulusan Universitas." Saya menulis atas inisiatif saya sendiri selaku mantan kombatan dan selaku Rakyat Aceh yang cinta Aceh dan cinta damai. Kalau memang Pemerintah Aceh memikirkan mantan kombatan dan seluruh rakyat Aceh, sudah saatnya mantan kombatan yang dulunya memegang senjata diganti dengan gagang cangkul karena dalam reintegrasi disebutkan memperoleh kompensasi 2 haktare tanah bagi mantan kombatan." Demikian pungkas Imran Nisam.(AM)