Iklan

Masyarakat Aceh Timur Butuh Tempat Rekreasi dan Wisata

ACEH TIMUR - Kekayaan  alam wisata Aceh Timur menyimpan pesona alam yang sangat eksotis, bukan hanya mempunyai tempat wisata bahari, tapi panorama alam yang memiliki nilai tambah dan daya tarik tersendiri. Mengingat kawasan Aceh Timur berada di pesisir laut selat Malaka, begitu juga dengan  daerah daratan sebagian besar kawasan hutan yang berbukit dan pegunungan , tentu memberikan nuansa kesejukan dan keasrian alam yang sangat indah .

Perpaduan kawasan pantai dan kawasan hutan menimbulkan hawa udara yang segar serta keadaan iklim yang bersahabat hanya pada waktu-waktu tertentu saja yang ekstrim. Terutama pada musim hujan, serta alam terbuka hijau yang terbentang menjadikan kawasan Aceh Timur sebagai daerah yang memiliki potensi wisata alam. Disamping itu juga Aceh Timur memiliki keanekaragaman sumber hayati yang sangat kaya, seperti marga satwa langka, hal ini tak terlepas Aceh Timur masuk zona kawasan leuser atau daerah hutan konservatif.

Hal tersebut dikatakan Teuku Munzir Kepala Humas Parawisata Aceh Timur kepada globalaceh.com, Sabtu (18/10), di Kantor PESAWAT (Persatuan Wartawan Aceh Timur), Titi Baro, Idi Rayeuk.
Lanjutnya, Aceh Timur  memiliki banyak situs cagar budaya yang mempunyai nilai sejarah yang bernilai tinggi seperti situs kerajaan tempoe doeloe antara lain kerajaan Peureulak menjadi ikon sejarah sebagai pusat peradaban Islam  pertama kali masuk ke Aceh, bahkan kawasan Asia Tenggara. Begitu juga  banyak menyimpan situs makam-makam keramat ulama, seni budaya lokal yang bisa menjadikan Aceh Timur sebagai daerah destinasi wisata religi dan wisata sejarah yang mengagumkan.

Menurut Teuku Munzir, asli putra Idi Rayeuk yang juga Kepala Humas ASPPI Aceh Timur mengungkapkan ada beberapa tempat objek wisata yang mempunyai panorama alam yang sangat exotis yang terdapat di Aceh Timur seperti pantai Idi Cut, Kuala Beukah, Keutapang Mameh, Kuala Simpang Ulim dan Krueng Thoe di Meunasah Asan. Selanjutnya di Lokop terdapat banyak lokasi objek wisata seperti sumber air panas, air terjun dan daerah aliran sungai pegunungan yang bisa di jadikan sarana arung jeram yang menantang, serta banyak lokasi-lokasi lain yang bisa jadi objek potensi wisata bahari maupun wisata alami.

Menurut Teuku Munzir Kepala Humas ASPPI Aceh Timur, salah satu yang menjadi daya tarik atau menjadi pusat perhatian terhadap Aceh Timur adalah memiliki nilai historis yang sangat tinggi karena tersimpan banyak situs sejarah seperti istana kerajaan Nurul A'la yang terletak di Peureulak Raya, sebagai salah satu kerajaan tertua di Aceh yang merupakan awal peradaban masuk islam di nusantara.

Kemudian banyak prasasti atau situs cagar budaya serta literatur kearifan lokal sebagai identitas masyarakat sebagai objek wisata sejarah yang menjadi perhatian  seperti bangunan tua Rumoeh Bueso Istana Raja Idi bertempat di Desa Kuede Blang, Klenteng Cina yang berada di jantung kota Idi Rayeuk, merupakan bangunan rumah Ibadah suku Tionghoa tertua di Asean, menjadi objek wisata religi yang akan menjadi objek kunjungan turis asing maupun lokal. Serta banyaknya keberadaan makam raja-raja dan ulama yang dianggap keramat seperti Kuburan Aneuk Lhee di Paya Gajah Kec. Peureulak Barat, Sultan Ahmad di Madat, Syech Wahi di Pante Bidari, Abu Kruet Lintang di Peureulak dll.

Banyak potensi objek-objek wisata di Aceh Timur menjadi khazanah dan mozaik sebagai destinasi wisata unggulan, ada 54 objek wisata yang terdapat di Aceh Timur, namun yang terpenting bagaimana objek wisata ini dikelola dan kembangkan dengan baik sehingga akan menarik daya minat bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Sehingga melalui sektor parawisata akan memperkenalkan lebih luas tentang Aceh Timur, disamping itu sektor ini memberikan konstribusi besar dalam membuka lapangan kerja, peningkatan ekonomi masyarakat, begitu juga sebagai sumber devisa daerah khususnya Aceh Timur.

Semenjak konflik berkecamuk di Aceh, dunia wisata khususnya Aceh Timur, mengalami mati total apalagi objek wisata pantai yang banyak menimbulkan asumsi negatif, rentan terjadinya maksiat yang bertentangan dengan nilai-nilai syariat.

Kendati demikian, banyak harapan dari masyarakat Aceh Timur yang menginginkan supaya Bupati Aceh Timur H. Hasballah Bin H.M Thaib mendukung sepenuhnya  objek-objek wisata yang ada di Aceh Timur dibuka kembali. Karena masyarakat sangat membutuhkan tempat-tempat rekreasi dan refreshing bagi angggota keluarganya, terutama pada hari-hari libur kantor atau sekolah. Karena selama ini mereka melakukan kunjungan rekreasi harus keluar daerah, disamping jarak tempuh yang sangat jauh juga membutuhkan biaya jumlah besar.

Menurut Teuku Munzir selaku Kepala Humas Parawisata Aceh Timur Harapan tersebut tentu sangat logis, wisata merupakan bagian kebutuhan hidup sekunder manusia. Begitu juga dengan sektor keparawisataan merupakan bagian dari sumber pertumbuhan dan peningkatan ekonomi masyarakat, tentu tanpa harus mengabaikan aturan-aturan syariat yang berlaku dan nilai-nilai kearifan lokal serta adat istiadat yang di anut oleh masyarakat Aceh.

Maka sangat perlu adanya suatu konsep pengelolaan parawisata berbasis masyarakat dan islami, baik dari sisi managemen pengelolaan, administrasi, sosialisasi dan pengawasan secara terpadu serta konfrehensif sehingga perilaku-perilaku yang mengarah kepada maksiat dapat diminimalisir.

Selanjut, perlu mengeksploitasi objek-objek wisata baru, dengan mengajak pelaku usaha luar atau lokal yang berorientasi bisnis di sektor wisata, seperti membangun pusat permainan anak-anak (play kids), waterpark, kebun binatang, kolam renang, panjat tebing, serta fasilitas pendukung lainnya seperti Bus wisata, hotel, meuseum, restauran, cafe, travel, jasa pemandu, toko souvenir, dll

Begitu juga halnya, melaksanakan event-event seremonial, pagelaran seni budaya, pameran lukisan, kreasi baru dan banyak kegiatan lainnya yang memiliki ekspektasi langsung terhadap peningkatan urat nadi ekonomi masyarakat, serta mengaktualisasikan kreativitas masyarakat.(AM)