Iklan

Duo Mantan Kombatan GAM "Sukses" Bertani Kedelai

ACEH TIMUR - MoU Helsinki atau perjanjian damai Aceh yang ditandatangani oleh pihak RI dan GAM, di Kota Vantaa, Finlandia, pada 15 Agustus 2005 lalu, terkesan tidak pernah habisnya untuk dijadikan bahan diskusi para anak bangsa, karena sesungguhnya isi perjanjian tersebut masih banyak yang belum diimplementasikan di lapangan.
Hari ini, seharusnya bukan waktunya lagi untuk mengumbar berbagai macam janji tentang penuntasan terhadap urusan UU PA, kemudian mengesampingkan hal pokok yang menjadi kebutuhan hidup bagi masyarakat Aceh, terutama bagi mantan kombatan yang menjadi bagian dari perjanjian MoU Helsinki.
Hal ini terlihat dari bermacam ragam kehidupan para eks kombatan. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa saat ini telah banyak para eks kombatan yang hidup mewah berlimpah harta, ada yang jadi pengangguran, ada yang menjadi pegawai tak berkantor yang pekerjaannya hanya kesana kesini membawa proposal dan bahkan ada juga yang hidup tidak menentu, dan juga tidak sedikit yang hidupnya kurang beruntung karena harus terlibat aksi kriminal dan berurusan dengan aparat hukum.
Selain itu, ada juga beberapa (tidak banyak_red), para mantan kombatan yang mulai menata hidupnya melalui karier politik, menjadi pengusaha, menjadi karyawan perkebunan dan ada yang istiqamah menjadi petani ataupun nelayan serta peternak. Ini merupakan kondisi nyata dari reintegrasi para eks kombantan GAM ke lingkungan masyarakat.
Kue perdamaian di Aceh belum semua dirasakan oleh seluruh eks kombatan secara merata, padahal di media dan semua masyarakat Aceh tahu bahwa dana Otonomi Khusus (Otsus), untuk Aceh luar biasa besarnya tapi sungguh disayangkan, karena dana tersebut terkesan ditutupi, bahkan ditengarai tidak mengalir untuk upaya perbaikan taraf kehidupan ekonomi para eks kombatan dan juga untuk seluruh masyarakat Aceh di daerah.
Meski demikian tidak menjadi halangan bagi seorang Panglima Salahuddin beserta rekannya Jamaluddin, dua sekawan dari kombatan GAM dari Sagoe 05, Warga Desa Seunebok Baro, Kecamatan Idi Tunong, Kabupaten Aceh Timur.
Hal tersebut diceritakan kepada wartawan ketika ditemui di lokasi pertaniannya, Rabu (12/10/2014. Menurutnya, semenjak perdamaian Aceh dan tidak lagi angkat senjata, mereka berdua kembali ke lingkungan masyarakat, lalu dengan ucapan 'Bismillah' mereka berusaha membangun kehidupan pribadi mereka dengan profesi sebagai petani. Suatu pekerjaan mulia dan mereka tidak merasa "malu" untuk menekuni bidang usaha tersebut.
Mereka mengakui bahwa ketika pertama sekali menggeluti dunia tani, banyak rekan-rekan dan juga masyarakat menertawakan mereka, karena dianggap bahwa profesi petani adalah profesi yang sangat tidak populer. Pekerjaan petani masih dianggap oleh para rekan Panglima Jalalluddin dan Jamaluddin, sebagai profesi yang tidak menjamin kesejahteraan hidup dimasa depan, masih dianggap pekerjaan yang berpanas berhujan, kotor bergelut dengan lumpur.
Menurut ke dua mantan kombatan tersebut, menjadi seorang petani adalah suatu yang patut dibanggakan. Karena pekerjaan petani adalah suatu profesi yang mulia dan banyak pahala. Kemuliaannya terletak ketika jerih payah petani berupa hasil panen dapat menghidupi banyak orang. Tiap hari tiap orang perlu makan, hanya dengan kemurahan hati petanilah yang bersedia menyemai, menanam, memelihara, dan memanen. Perut kita dapat diisi dengan nasi, sayur, lauk pauk serta buah-buahan dan kita semua dapat melanjutkan hidup.
"Pada hakikatnya, petani merupakan ujung tombak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," kata mereka dengan senyum bangga ditengah hijaunya lahan kedelai.(AM/F75)