Iklan

AJI: Negara Biarkan Pembunuh Wartawan Berkeliaran

JAKARTA - Aliansi Jurnalis Independen menyatakan pengungkapan kasus kekerasan terhadap jurnalis tidak kunjung menemukan titik terang tahun ini. Negara dianggap abai mengusut penyebab pembunuhan delapan jurnalis sejak 1996.

"Tahun ini adalah tahun kelabu untuk pengungkapan kasus kekerasan terhadap jurnalis. Polisi abai, negara pun abai membiarkan pelaku kekerasan melenggang bebas," kata Ketua Umum AJI Suwarjono dalam siaran pers yang diterima Tempo, Selasa, 23 Desember 2014.

AJI mencatat terdapat delapan kasus pembunuhan terhadap jurnalis yang belum diusut tuntas. Pertama, kematian wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin pada 16 Agustus 1996. Udin dipukul dengan tongkat besi oleh orang misterius di teras rumah kontrakannya di Bantul, Yogyakarta. (Baca: AJI: Karikatur Jakarta Post Kritik Kekerasan ISIS)

Selain Udin, wartawan Harian Sinar Pagi Kalimantan Barat, Naimullah, juga tewas pada 25 Juli 1997. Naimullah ditemukan tewas dengan luka tusuk di leher di mobilnya yang terparkir di Pantai Penimbungan, Kalimantan Barat. Agus Mulyawan, wartawan Asia Press, tewas di Timor Timur pada 25 September 1999. (Baca: Jurnalis Malang Kecam Kebrutalan Polisi Makassar)

Tak hanya itu, Muhammad Jamaludin, jurnalis TVRI biro Aceh, ditemukan tewas pada 17 Juni 2003, dan Ersa Siregar, jurnalis RCTI, juga tewas tertembak pada 29 Desember 2003. Berikutnya, Herliyanto, jurnalis tabloid Delta Pos, tewas pada 29 April 2006, dan Adriansyah Matra'is Wibisono, jurnalis TV lokal Merauke, tewas pada 29 Juli 2010. Terakhir, Alfred Mirulewan, jurnalis tabloid Pelangi, Maluku, juga ditemukan tewas pada 18 Desember 2010.

"Kasus Udin yang masuk kadaluwarsa tak mendapat respon dari kepolisian. Padahal kasus ini diharapkan menjadi pintu masuk mengungkap tujuh pembunuhan jurnalis lainnnya," kata Suwarjono. AJI mendesak Presiden Joko Widodo mendorong kepolisian menuntaskan kasus ini. (TEMPO.CO)