Iklan

Mengenang Sepuluh Tahun Tsunami Aceh : Azzam Hidup Tanpa Ayah Ibu

BANDA ACEH - Berbagai kisah sedih dan memilukan sepertinya tak akan ada habisnya akibat bencana gempa bumi dan tsunami Aceh. Mulai kisah nyata tentang kehilangan sanak keluarga, orang tua, kerabat maupun orang-orang terdekat yang dicintai bahkan hingga saat ini masih ada keluarga yang terpisah dan tak pernah bertemu hingga sekarang. 

Seperti kisah yang kualami, umurku waktu itu baru tujuh tahun namun kenangan musibah gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004 lalu, merupakan bencana maha dasyat yang tak akan pernah terlupakan. Kisah ini merupakan sejarah kelam bagi umat manusia dimana ratusan ribu nyawa menjadi korban keganasan alam terutama rakyat bumi serambi Mekkah, Aceh Lon Sayang.

Setelah sepuluh tahun berlalu, kisah ini terus berbekas dalam ingatanku. Dengan doa dan harapan semoga bencana yang sama tidak akan pernah terjadi lagi, dan semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Namaku M. Ammar Azzam tapi orang lebih akrab memanggilku Azzam, dilahirkan 17 tahun lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 1997. Aku sangat mengagumi kedua orang tuaku, ibuku seorang penyiar dan ayahku seorang Pegawai Negeri Sipil. Aku memiliki dua orang kakak dan abang, mereka adalah pahlawan bagiku. Keluargaku merupakan keluarga yang sederhana dan aku bangga memiliki keluarga seperti mereka.

Kami sekeluarga lebih sering berkumpul bersama dan menjalani hari-hari seperti biasa. Namun, pada hari Minggu, tanggal 26 Desember 2004, awalnya pagi itu seperti biasa namun lambat laun berubah menjadi kepanikan. Tiba-tiba bumi bergetar kuat, waktu aku kebingungan karena tak tahu yang sedang terjadi.
Aku hanya mendengar suara seseorang berteriak "gempa". Aku baru menyadari kalau itu suara ibuku, aku ketakutan, aku hanya bisa mengikuti kemana ibuku pergi. 

"Di halaman rumah sudah ada ayah dan kakak-kakak yang berkumpul lebih dulu. Aku ketakutan dan kebingungan sambil bertanya "kenapa ? Kenapa bu ? Ada apa ?" Ibuku menjawab "gempa nak". Suasana waktu itu susah untuk digambarkan, aku hanya ketakutan dan memeluk ibu. Aku ingat betul saat itu, saat terakhir kali aku memeluk ibuku. Aku sempat melihat wajahnya yang ketakutan dan tetap berusaha melindungi anaknya. 

Gempa terus terjadi, tanah terus berguncang, tiang-tiang bergoyang, orang berteriak histeris, situasi yang tidak dapat dijelaskan. Lambat laun gempa mereda perlahan-lahan, tiba-tiba banyak orang berteriak "air laut naik" keadaan kembali panik. Aku melihat ayah seperti terburu-buru, menyuruh kami untuk bersiap-siap agar langsung menuju ketempat yang lebih aman. Tetapi adik ayah datang dan memberitahu kalau jembatan untuk keluar dari gampong sudah ambruk. Akhirnya ibu menyuruh untuk lari saja bersama dua kakak perempuanku, kami berlari ke arah belakang rumah.

Kisah itu merupakan kesedihan yang mendalam, karena baru aku menyadari kalau perpisahanku dengan ayah ibu merupakan perpisahan yang terakhir untuk selama-lamanya. Sepuluh tahun sudah, aku tak merasakan pelukan kasih sayang ibu. Akupun tak mendengar petuah dan nasehat ayahku. Hanya keluarga lah, abang dan kakakku yang selalu menjadi penyemangat hidup. Meski demikian, doa selalu kupanjatkan kepada Allah SWT semoga ayah dan ibuku senantiasa mendapatkan tempat yang layak disisiNYA, semoga berada di syurga. Amin ya robal alamin. 

Penulis M. Ammar Azzam saat ini tercatat sebagai siswa SMA Fatih Bilingual School dan penerima program beasiswa dari Lost Children Operation (LCO) - People"s Association on Conscience (PAC) Banda Aceh.