Iklan

Pasca Banjir, Petani  Pidie Terancam Gagal Produksi Garam

SIGLI - Sejumlah  petani garam di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Pidie, menjerit dan memohon perhatian pemerintah setempat karena tidak dapat menggarap lahan pengaramannya akibat  digenangi banjir, baik yang ditimbulkan hujan lebat maupun luapan sungai dan pasang laut.  Kondisi ini, membuat kehidupan dan kebutuhan rumah tangga dari petani garam tersebut menjadi "morat marit" dan sangat memprihatinkan.

Kenyataan pahit itu, diungkapkan salah satu Ketua Kelompok Petani Garam Manggis Desa Cebreik, Kecamatan Simpang Tiga,  Abu Amiruddin (53) kepada Globalaceh, Sabtu (26/12) pagi di kediamannya. "Kami, sudah lama tidak dapat menggarap lahan pengaraman, karena hampir semua lahan garam disini digenangi banjir yang ditimbulkan hujan lebat serta luapan sungai," kisahnya dengan nada sedih.

Amiruddin juga menuturkan, kehidupan petani garam di desanya sangat tergantung dari kemurahan sinar matahari, jika matahari terik dengan suhu panas tinggi, kami sangat senang karena bisa menggarap lahan serta air asin  "kuloh" bahan baku garam cepat membeku dan menimbulkan kristal garam dalam masa penantian selama tiga atau empat hari saja.

Lebih lanjut, sebut Amiruddin, ia sudah menjalani professi menggarap lahan pengaraman rakyat selama 30 tahun lebih. Dan, tahu persis bagaimana mengolah garam jemur dengan baik. Karena, rata-rata petani di desanya lebih senang membuat garam jemur ketimbang garam masak. Karena, garam masak membutuhkan banyak bahan baku, seperti belanga besi besar dan kayu bakar. (RJ)