Iklan

GPMP Desak Percepatan Pemekaran Peureulak Raya

BANDA ACEH - Pemekaran Peureulak Raya bukanlah pemanfaatan moment, ini harus diperjelas. Ini keberlanjutan dari langkah pemekaran yang sedang diperjuangkan sejak dulu. Harus ada informasi yang jelas kepada masyarakat mengenai persoalan ini.

Hal tersebut disampaikan Koordinator Aksi Gerakan Pemuda Mahasiswa Peureulak (GPMP-Peureulak Raya), Muhammad Reza, SPd, ketika melakukan orasi di Simpang Lima Banda Aceh, Selasa (3/2/2014).

Menurut Reza, masyarakat butuh klarifikasi terkait dengan pemekaran ini. Sudah sejauh mana dan seperti apa kelanjutan proses pemekaran Peureulak Raya. Kita juga meminta elemen masyarakat sipil untuk terus memantau dan memperjuangkan Kabupaten Peureulak Raya.

Kita semua tahu bahwa cikal bakal kerajaan NAD merupakan prakarsa kerajaan Islam Peureulak. Oleh karenanya daerah tersebut dijuluki bandar khalifah diperkuat dengan Monumen Islam Asia Tenggara meskipun Monumen tersebut tak kunjung dibangun.

"Kita menuntut semua pihak berpartisipasi dalam memikirkan langkah pemekaran ini, kami melihat dukungan itu sangat masif. Namun mereka hanya diam, tanpa bersuara," katanya.

Upaya pemekaran bukanlah suatu upaya kelompok yang diprakarsai oleh elit, akan tetapi ini permintaan masyarakat. Kita juga sangat apresiasi atas apa yang sudah dijalankan oleh panitia terdahulu. Selaku Pemuda, kami pantas bersuara.

"Kami berharap gubernur bisa melihat langkah pemekaran ini secara progresif,  mengingat cagar budaya islami di Peureulak tidak bisa dibiarkan dan dipandang sebelah mata. Banyak turis yang sangat tertarik untuk mengunjungi area Bandar Khalifah tersebut. Ini, bukan situs sejarah nasional, akan tetapi internasional," pinta.

GPMP-Peureulak Raya juga mendesak DPRK dan Bupati Aceh Timur untuk merekomendasikan secara tertulis bentuk dukungan pemekaran Kabupaten Peureulak Raya yang terdiri dari 10 Kecamatan. Kami akan terus melakukan konsolidasi terkait langkah ini.(AM)