Iklan

Rocky: ‘Konflik Gajah – Manusia Berakhir’

Aceh Timur  – Pembatas atau sering disebut barrier akan menjadi satu-satunya penyelesaian konflik gajah dengan manusia di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh.

Keseriusan pemerintah dalam menangani konflik satwa liar itu kini benar-benar terbukti. Artinya, konflik gajah dengan manusia yang terjadi bertahun-tahun di pendalaman Aceh Timur kini berakhir dan tuntas tanpa harus mengorbankan gajah, bahkan kini ratusan gajah yang selama ini mengamuk dan masuk ke pemukiman penduduk kedepan akan digiring ke habitatnya menggunakan gajah jinak yang ada di CRU Serbajadi.

Sebagaimana diketahui, konflik gajah selama ini terjadi di Kecamatan Ranto Peureulak, Julok, Indra Makmur, Banda Alam, Birem Bayeun, Sungai Raya dan Peunarun serta beberapa titik lainnya di Aceh Timur.

Kini, masyarakat tidak perlu was-was lagi, karena gajah liar itu akan dikarantina sesuai standar lingkungan dan telah terbukti dibeberapa negara luar dengan cara ini gajah tetap terlindungi. "Kita fokus menyelesaian konflik gajah dengan manusia, terbukti kita mulai membangun barrier yang didukung dengan CRU Serbajadi dengan empat ekor gajah jinak yang telah kita tempatkan sejak akhir 2015 lalu," kata Bupati Aceh Timur, H. Hasballah HM.Thaib atau yang disapa akrab Rocky usai Pencanangan Pembuatan Barrier Gajah di Desa Arul Pinang, Kecamatan Peunarun, Selasa 24 Mei 2016.

Dia mengatakan, keseriusan pemerintah dalam menyelamatkan ekonomi rakyat dipedalaman Aceh Timur telah dibuktikan lewat penggirigan gajah ke habitatnya.

Bahkan pihaknya mengapresiasi pihak Balai KSDA Aceh dan Forum Konservasi Leuser (FKL) yang ikut membantu penyelesaian konflik gajah dengan manusia.

"Kita juga bangga dengan kerja FKL yang mampu membangun kepercayaan NGO asing dalam membantu Aceh Timur menyelamatkan satwa gajah, sehingga untuk tahap pertama pembuatan barrier gajah dilakukan kerjasama antara Pemkab Aceh Timur dengan pihak FKL dibawah pimpinan Rudi Putra," katanya.

Setelah selesai konflik gajah, Rocky mengaku kedepan pihaknya akan berupaya memperbaiki ekonomi masyarakat dipedalaman Aceh Timur khususnya petani-petani yang selama ini tanamannya dirusak gajah.

"Menjaga hutan dan habitat didalamnya adalah tugas Balai KSDA, termasuk kita. Tapi bagi saya di pemerintahan yang paling penting adalah membangun ekonomi rakyat demi kesejahteraan," demikian Rocky.

Dalam acara tersebut hadir antara lain Wakil Bupati Aceh Timur, Sekda Aceh Timur M. Ikhsan Ahyat,S.STP,M.AP, para asisten, para kepala SKPK, para camat, Direktur FKL Rudi Putra dan unsur muspika setempat.

Hadir juga pemerhati lingkungan dunia antara lain Andrew Simon Wright, Nicole Gretchen Rycroft (Kanada), Frank Bernhard Muller, Julian Alexander Schulz, Marilena Alica Muller (Jerman), Graham Usher (Inggris), Patrick Stone Gilfether dan Danya Mauren Kienan dari Amerika Serikat. (Red)