Iklan

Impor Jatim Naik 17,78%, Termasuk Sisa Industri Makanan

SURABAYA,  Impor Jatim selama Oktober 2018 mencapai 2,35 miliar USD atau naik 17,78 persen dibanding bulan sebelumnya. Dari jumlah tersebut, nilai impor non migas mencapai 1,85 miliar USD atau naik  20,17 persen.


Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Satriyo Wibowo, menyampaikan itu di kantornya, Kamis (15/11/2018). Dia menambahkan, komoditas terbesar yang diimpor adalah bahan mentah yang akan diolah di dalam negeri.


Satriyo lalu menyebutkan, impor besi dan baja mencapai 185,87 juta USD, disusul golongan barang mesin pesawat mekanik, dan golongan ampas atau sisa industri makanan.


Disebutkan pula, negara asal barang impor non migas terbesar sejak awal tahun ini Tiongkok, yang nilainya mencapai 4.712,41 juta USD. Setelah itu dari Singapura sebesar 965,02 juta USD.


Sedangkan untuk ekspor produk Jatim selama periode Oktober 2018 disebutkan naik 25,23 persen atau mencapai 2,05 miliar USD. Komoditas andalan eskpor non migas terbesar kali ini perhiasan/permata yang banyak dikirim ke Swiss.


Menurut Satriyo, sebetulnya sudah delapan bulan ini Swiss keluar dari 10 besar negara pengimpor perhiasan asal Jatim. "Baru kali ini Swiss kembali memborong lagi perhiasan asal Jatim," ujarnya.


Selain Swiss, negara pengimpor perhiasan asal Jatim terbesar kedua Singapura, yang nilainya mencapai 114,07 juta USD.


Golongan perhiasan menyumbang ekpsor senilai 453,03 juta USD, disusul kayu, barang dari kayu dan lemak/protein hewani sebesar 118,69 juta USD. Secara umum, negara tujuan ekspor non migas dari Jatim adalah Amerika Serikat dan Tiongkok.


Di tingkat ASEAN, ekspor non migas Jatim mencapai 2.770,65 juta USD atau 19,48 persen. Sedangkan untuk produk yang sama ke Uni Eropa mencapai 1.350,54 juta USD atau 8,38 persen. (Ganefo)


Teks Foto: Kabid Statistik Distribusi BPS Jatim, Satriyo Wibowo.