Iklan

Trio Atlet dari Satu Keluarga Penyumbang Medali Terbanyak Untuk Aceh Timur

Aceh Timur - Diantara banyak rumah-rumah penduduk yang selalu digenangi lumpur dan air laut ketika pasang purnama tiba. Di kawasan Dusun Calog Gelima, Desa Gampong Jawa, pinggiran Kota Idi, ibu kota Kabupaten Aceh Timur. Terlihat sebuah rumah berkontruksi kayu yang dihuni oleh tiga putri sang bintang penyumbang medali terbanyak untuk Kontingen Aceh Timur di Pekan Olahraga Aceh (PORA) Ke- XIII 2018 Jantho Aceh Besar.

Rumah kayu berwarna hijau 4x6 meter itu adalah rumah pasangan Nurdin (59) dan Artatik (53) yang telah melahirkan atlet berprestasi di dua cabang olahraga yang berbeda, dan trio atlit putri itu telah membawa harum nama Kabupaten Aceh Timur di PORA Ke- XIII Jantho, Kabupaten Aceh Besar 2018. Desi Ratana Sari (21) berhasil meraih 4 Emas, 4 Perak, dan 2 perunggu Kemudian adiknya Novita (19) meraih 3 emas, 1 perak, dan 3 perunggu, kakak beradik ini adalah atlet berprestasi di Cabang Federasi Panjat Tebing Indonesia(FPTI)Kabupaten Aceh Timur.

Berkat prestasi dua atlit putri anak dari Nurdin, seorang lelaki yang berprofesi pedagang ikan di pasar tradisional Idi itu, telah membawa FPTI Aceh Timur sebagai juara umum pada event Pekan Olahraga Aceh (PORA) ke –XIII di Jantho, Aceh Besar baru-baru ini. Sedangkan, Fitriaani (23) kakak Desi Ratna Sari adalah peraih 1 medali perunggu pada Cabang Olahraga Kempo Kabupaten Aceh Timur. Meski mereka bertiga hidup dalam keluarga yang sangat sederhana, akan tetapi mereka bertiga mampu meraih prestasi didunia olahraga yang ekstrem ini. Keberhasilan mereka bertiga tidak terlepas dari andil semangat sang juara yang dituangkan oleh kedua orang tua mereka.

Ibu mereka Artatik, meski di usianya sudah menjelang senja, Artatik tetap semangat untuk mendukung putri -putri kesayangan mereka dalam mengukir prestasi. Sang Ibu Artatik kepada penulis mengaku dirinya tidak pernah luput mengingatkan putrinya untuk lebih awal, dan tidak absen mengikuti latihan dicabang olahraga yang mereka geluti masing-masing.

"Awalnya, ketika Desi masih sekolah di SMKN 1 Idi, sebelum PORA ke XII tahun 2014, saya bersama bapaknya Desi sempat pesimis. Bahkan ayahnya sempat mengatakan kepada Desi untuk tidak ikut olahraga panjat tebing dengan resiko yang sangat tinggi," kata Artatik kepada penulis saat bertandang ke rumah mereka, Senin (26/11/2018), pagi.

Diajang PORA Ke - XII Aceh Timur 2014, Desi berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu berprestasi di cabang olahraga Panjat Tebing. Prestasinya di PORA XII telah meluluhkan hati kedua orang tua Desi Ratna Sari untuk mendukung mereka agar terus mengukir berprestasi di dunia olahraga.

"Kami ini keluarga kurang mampu, dengan penghasilan pas-pasan, tentunya untuk melanjutka pendidikan anak kami ke perguruan tinggi sungguh tidak mampu. Jalan memberi untuk memberi mereka kebahagian adalah mendukung mereka untuk giat berlatih agar dapat meraih prestasi, hanya itu kemampuan kami," ujar Artatik dengan nada sedih.

Ternyata dibalik keberhasilan Desi Ratna Sari sebagai atlet panjang tebing, mempunyai kisah perjuangan yang sangat pahit diawalnya. Desi mengisahkan, kepada penulis, awal langkah perjalanann dirinya menjadi atlet panjat tebing dan bergabung di FPTI Aceh Timur, Ia harus mengarungi lumpur-lumpur stadion Moen Sikureng Idi Rayeuk dan harus memanjat dinding bangunan sekolah SMPN 1 Idi Rayeuk.

"Awalnya, setelah saya mendapat pemaparan tentang olahraga Panjat Tebing di sekolah saya, yang disampaikan oleh pengurus FPTI Aceh Timur, Bang Ilyas Ismail  dalam acara jemput atlet Panjat tebing ke SMKN 1 Idi. Berawal dari situlah saya terus meminta izin orang tua saya untuk mengikuti latihan olahraga yang ekstrem itu," kisah Desi.

Kata Desi, meski orang tuanya sempat pesimis, hal itu adalah sebuah tantangan bagi dirinya. Dengan tekat sang juara dirinya akan memberikan sebuah bukti kepada kedua orang tuanya."Meski sempat pesimis, namun kedua orang tua saya kala itu mengizinkan saya untuk mengikuti latihan di cabang olahraga panjat tebing. Saya pun dengan Bismillah, kala itu ingin membuktikan kepada orang tua saya, bahwa saya mampu untuk sunguh-sungguh mengikuti latihan," kata Desi.

Desi melanjutkan kisahnya, kala itu, dirinya bersama beberapa orang teman dari SMKN 1 Idi, bertekad untuk menjadi atlet panjat tebing, dan terus berlatih dengan semangat sang juara dibawah binaan Pelatih Panjat Tebing Kaliber Nasional Mahdi Ismail.

"Awalnya kami berdarah-darah. Karena kondisi Pengcab FPTI di Aceh Timur adalah Pengcab FPTI baru, di Aceh Timur, tidak ada yang namanya Wall Panjat Tebing. Untuk sarana latihan panjat kala itu, kami terpaksa memanjat dinding stadion Moen Sikureng dan dinding gedung SMPN 1 Idi dengan sepatu dua pasang dan peralatan seadanya," kisah Desi.

Meski dalam kondisi serba kekurangan, akan tetapi seluruh atlet panjat tebing Aceh Timur yang notabenenya asli putra –putri Aceh Timur, dibawah bimbingan pelatih dan semangat kebersamaan pengurus untuk optimis meraih medali di PORA ke XII 2014 Aceh Timur.

Terlahir dari semangat motivasi dan kekompakan tim atlet panjat tebing Aceh Timur, pada PORA ke XII Aceh Timur 2014. Perjuangan Desi dan teman-teman atlet panjat tebing Aceh Timur lainnya, membuahkan hasil dan berhasil meraih 4 medali emas, dan medali lainya kala itu. Keberhasilan Desi di PORA ke – XII Aceh Timur tahun 2014 dan Kejurnas Panjat Tebing Aceh Timur 2014, telah menumbuhkan semangat sang juara pada diri Desi, dan Ia telah membuktikan kepada keluarganya, bahwa dirinya BISA. Tak hanya itu, bahkan orang tua Desi sendiri, meminta Desi untuk mengajak adiknya Novita ikut latihan Panjat Tebing dan bergabung di Cabor FPTI Aceh Timur.

Hari ini, pada Event PORA Ke- XIII, Desi Ratna Sari dan Adiknya Novita, telah membuktikan kepada kedua orang tuanya, dan kepada masyarakat Aceh Timur, bahwa mereka mampu memboyong medali terbanyak yang dipersembahkan untuk Aceh Timur. Meski mereka hidup ditengah keluarga yang sederhana dalam sebuah rumah kayu yang sering dilanda banjir pasang purnama, namun semangat mereka tidak pernah terbawa arus pasang purnama. Mereka telah membuktikan mampu membawa Cabor Panjat Tebing atau FPTI Aceh Timur sebagai Juara umum di PORA ke XIII Jantho, Kabupaten Aceh Besar 2018.

Hari ini prestasi Desi Ratna Sari sebagai atlet panjat tebing, bukan hanya sebagai bintang panjat tebing di Aceh Timur. Tetapi mereka juga telah mendapat tempat sebagai atlet Platda Aceh bersama Faisal atlet putra, dari FPTI Aceh Timur. "Insya Allah, saya dan Faisal di akhir bulan ini harus berangkat lagi ke Banda Aceh guna mengikuti pelatihan Platda Aceh untuk Panjat Tebing," ujar gadis berkulit sawo matang itu.

Semoga saja jejak atlet panjat tebing Aceh Timur Desi Ratna Sari, dan adiknya Novita, serta kakaknya Fitriani atlet Cabang Olahraga Kempo Aceh Timur, menjadi motivasi bagi atlet-atlet lainya di Aceh. Hidup yang sederhana, bukanlah penghalang untuk berprestasi. Namun dukungan dan semangat orang tua adalah modal untuk meraih prestasi yang gemilang.

Jika kita melirik dari latar belakang kehidupan ketiga bintang olahraga Aceh ini, Desi Ratna Sari, Novita dan Fitriani, sangat layak ketiganya mendapat perhatian dari Pemerintah Aceh Timur, dan Pemerintah Aceh. Agar mereka tetap bangkit dengan semangat sang juara untuk mengukir prestasi ditingkat Nasional dan International yang akan membawa nama harum keluarga dan kabupaten Aceh Timur dimasa akan datang. Jangan Tunda Bahagia. (Red)